Di Balik Penderitaan Ada Kebahagiaan!

Siraman Rohani, Minggu 06 Agustus 2017

Rm Fredy Jehadin SVD

Matius 17: 1 – 9

Saudara-saudari … Saya yakin kita semua sudah alami kesulitan dalam hidup. Ada yang alaminya cukup lama, tetapi ada yang alaminya hanya sebentar saja. Di saat kita ada dalam situasi sulit pikiran dan perasaan kita sungguh sangat penat dan tak berdaya. Tetapi di saat kita melewatinya dengan sukses dan nyaman, maka kita alami rasa legah dan bahagia.

Ada seorang teman sempat bertanya bagaimana caranya agar di saat kita berada dalam situasi sulit pikiran dan perasaan kita bisa tetap terasa tenang dan aman tanpa panik dan hilang akal. Mendengar pertanyaan teman ini, saya teringat akan ceritera dari seorang pasien yang menderita sakit selama 50 tahun. Sakit pasien ini bermacam-macam sampai tubuhnya menjadi sangat pendek. Yang menarik dari pengalaman hidup sang pasien ini adalah dia melihat sakitnya sebagai satu panggilan hidup, di mana lewat penderitaannya dia mengalami secara langsung penderitaan Yesus di salib.

Penderitaannya adalah satu bentuk partisipasi aktip dalam penderitaan Yesus baik di kayu salib maupun penderitaan-Nya di saat orang Farisi dan ahli-ahli Taurat selalu menantang-Nya. Di saat sang Pasien ini mengartikan penderitaannya sebagai satu bentuk panggilan, berpaartisipasi aktip dalam penderitaan Kristus, maka selama sakit, dia selalu merasa tenang dan memancarkan senyum manis kepada mereka yang mengunjunginya.

Lewat penderitaannya dia berpastoral kepada orang sehat, bahwa penderitaan itu harus diterima dengan senang hati karena Yesus Kristus sendiri sudah mengalami penderitaan. Pengalaman sang pasien ini adalah jawaban saya kepada teman yang bertanya: bagaimana caranya agar di saat kita berada dalam situasi sulit pikiran dan perasaan kita bisa tetap terasa tenang dan aman tanpa pamit dan hilang akal. Sebagai tambahan saya katakan kepada teman yang bertanya: Bersabarlah selalu, serahkan semua kesulitan hidup kepada Tuhan dan percayalah bahwa Tuhan dengan caranya akan membantu kita. Karena tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.

Saudara-saudari… Hari ini kita merayakan Pesta Yesus menampakkan kemuliaan-Nya kepada para rasul. Penampakan ini terjadi sebelum Yesus disiksa, disengsarakan dan mati di kayu salib. Penampakan kemuliaan Yesus ini bertujuan agar para rasul percaya bahwa ada kehidupan sesudah kematian; ada kemuliaan sesudah penderitaan di dunia ini. Dalam penampakan itu hadir Musa dan Elia. Keduanya hidup ratusan tahun sebelum Yesus datang ke dunia ini. Tetapi lewat penampakan itu mereka kelihatan masih hidup. Satu bukti bahwa kehidupan manusia tidak akan berakhir. Kematian adalah pintu masuk ke dalam dunia baru, kehidupan baru.

Lewat penampakan ini Tuhan kembali ingatkan para rasul, bahwa Yesus Kristus adalah Anak yang dikasihi Allah. Tuhan mengajak manusia untuk mendengarkan Dia. Sesudah penampakan ini Yesus dan para murid turun gunung. Pada waktu itu Dia berkata kepada mereka: Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari orang mati.

Selanjutnya mereka berjalan menuju Yerusalem siap menghadapi penderitaan. Di Yerusalem Yesus ditangkap, disengsarakan, dipaku pada kayu salib. Selama menghadapi penderitaan itu, Yesus menerimanya dengan tabah. Dia tidak berteriak meminta pertolongan para rasul dan murid-Nya untuk membela Dia. Dia menerima semuanya dengan sabar. Kesabarannya mendatangkan berkat. Sesudah tiga hari, Dia bangkit kembali dari kematian memproklamirkan kemenangan atas kematian. Bagi yang percaya kepada-Nya tidak akan alami kematian, sebaliknya akan alami kehidupan untuk selama-lamanya. Jadi bagi yang percaya kepada Kristus, di balik penderitaan selalu ada kebahagiaan.

Satu peringatan bagi kita, bahwa di saat kita menderita terimalah penderitaan itu dengan sabar. Pandanglah Salib Kristus karena Dia sendiri sudah mengalami penderitaan yang mungkin sangat jauh lebih besar dari penderitaan kita. Percayalah selalu bahwa memikul penderitaan bersama Kristus, berat penderitaannya akan sangat berkurang.

Kita berdoa semoga Tuhan selalu memberi kita kesabaran dan kekuatan agar kita selalu sanggup memikul salib kita sendiri.

Kita memohon Bunda Maria untuk mendoakan kita. Amen.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s