Terimalah Dan Kasihilah Sesama Tanpa Memandang Latarbelakang Orangnya!

Siraman Rohani , Jumat 04 Agustus 2017

Rm Fredy Jehadin SVD

Matius 13:54-58

Saudara-saudari … Kita semua berasal dari keluarga dan lingkungan masyarakat tertentu. Perasaan kedekatan kita dengan keluarga dan lingkungan sangat tergantung dari relasi antara kita.

Saya mengenal dua orang teman yang memiliki sifat yang berbeda. Yang seorang, setiap kali ia berlibur di tengah keluarga dan masyarakat di kampungnya selalu merasa bahagia. Ia selalu diterima oleh keluarga dan masyarakat di kampungnya. Kehebatan dari teman ini adalah rendah hati, mendengarkan, terbuka membagi pengalaman hidupnya dan kesediaan mendengar dan belajar dari masyarakat di kampungnya. Sementara teman yang satu, setiap kali berlibur sering tinggal saja dalam keluarga kecilnya dan sibuk dengan urusan pribadinya. Ia tidak bersosialisasi dengan masyarakat di kampungnya. Karena sikapnya ini nama teman ini sering dibicarakan oleh masyarakat di kampungnya. Secara pribadi saya bisa membayangkan perasaan dari teman ini. Ia merasa kikuk dan tidak bebas bergerak karena sepertinya ia ditolak oleh masyarakat di kampungnya.

Saudara-saudari … Lewat Injil hari ini kita mendengar ceritera bahwa Yesus ditolak oleh masyarakat di kampung asalnya, yaitu di Nazaret. Alasan mendasar mengapa Ia ditolak adalah karena kebingungan dan keheranan melihat perubahan yang terjadi secara mendadak dalam diri Yesus. Injil katakan: “Takjublah mereka dan berkata: ‘Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu?

Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibuNya benama Maria dan saudara-saudaraNya ada bersama kita? Jadi dari mana diperolehNya semuanya itu?” Mereka tahu latarbelakang Yesus. Selama 30 tahun Yesus hidup di di Nasaret. Tetapi dalam waktu yang sangat singkat tiba-tiba Ia tampil di depan umum dan berbicara dengan penuh wibawa dan mengadakan mujizat. Orang seasal-Nya secara khusus mereka yang berasal dari kalangan atas tidak menerimanya.

Mereka tidak menerima perubahan yang sangat mendadak yang terjadi dalam diri Yesus. Ia, yang dari kalangan bawah – tukang kayu- tidak berpendidikan tinggi, tiba-tiba tampil di depan umum dan mengajar orang yang berpendidikan lebih tinggi dari Dia. Ia yang hari-hari bergaul dengan pemukul, gergaji, paku dan kayu kini tampil di depan umum mengadakan mujizat. Ia yang hari-hari berhadapan dengan para pelanggan, yang berurusan dengan kursi, meja, lemari dan perabot rumah kini tampil di depan umum berbicara dengan macam-macam manusia dari latar belakang yang berbeda. Perubahan profesi yang terjadi dalam diri Yesus ini membuat orang seasalnya heran dan tidak percaya. Mereka menolak-Nya. Menanggapi sikap mereka Yesus dengan sangat kecewah katakan: Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempatnya sendiri dan di rumahnya.

Saudara-saudari … Dari pengalaman ini kita bisa amati beberapa hal yg mungkin baik untuk direnungkan:

1) Manusia adalah mahluk dinamik. Dia bisa berubah kapan saja tergantung dari keterbukaannya untuk menerima satu inpirasi baru atau kekuatan baru yang masuk ke dalam dirinya. Inspirasi atau kekuatan itu tidak bisa dibendung kecuali dibiarkan bekerja dalam dirinya. Pengalaman itulah yang terjadi dalam diri Yesus. Ia mendapat kekuatan itu sejak Ia dipermandikan di Sungai Yordan dan selama mengikuti retret 40 hari di padang gurun. Kekuatan Roh itulah yang memungkinkan segala sesuatu terjadi dalam diri Yesus. Tetapi masyarakat Nazaret tidak mengetahui semua itu. Mereka tetap terpaku pada konsep lama, bahwa Yesus adalah seorang manusia yang tidak berpendidikan. Konsep pemikiran mereka sangat kuat dan tidak bisa dirubah.

2) Kecemburuan dan kesombongan selalu terjadi di kalangan masyarakat. Mereka yang dari kalangan atas selalu ada kecendrungan tidak mau menerima kelebihan dari orang lain secara khusus dari kalangan bawah. Itulah yang terjadi dalam kalangan ahli Taurat, para imam dan orang Farisi. Mereka menolak Yesus karena perubahan profesi yang terjadi dalam diri Yesus. Yesus dari keluarga sederhana tiba-tiba tampil di depan umum dengan penampilan yang sangat luar biasa. Mereka takut kehilangan pengaruh. Cara yang terbaik bagi mereka adalah menolak Yesus.

3) Injil mau mengajar kita untuk selalu siap sedia menerima perubahan yang terjadi dalam diri seseorang dan dengan rendah hati menerima kelebihan sesama, apa pun latar belakang orangnya. Saling menerima dan mengasihi sesama tanpa memandang latarbelakang orangnya haruslah selalu dipupuk.

Kita berdoa semoga Tuhan selalu membuka hati dan pikiran kita untuk selalu menerima dan mengasihi sesama apa adanya.

Kita memohon St. Yohanes Maria Vianey dan Bunda Maria untuk selalu mendoakan kita. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s