Orang Sakit Membutuhkan Tabib!

Siraman Rohani Jumat 07 Juli 2017 Rm Fredy Jehadin SVD

Bacaan Injil : Matius 9: 9 – 13

Saudara-saudari…. Hari ini Injil mengisahkan panggilan Matius. Dia yang setiap hari sibuk di kantor pajak, tiba-tiba dipanggil oleh Yesus Kristus. Satu peristiwa yang sangat mulia bagi Matius. Di saat dipanggil, mungkin dia merasa kaget, bingung dan tidak tahu mengapa Yesus memanggilnya. Tetapi yang menarik, bahwa apapun rencana dan maksud Yesus, dia serahkan diri sepenuhnya kepada Yesus. Matius dikenal oleh umum sebagai Pemungut pajak. Di mata pemimpin agama Yahudi, orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, Matius dianggap sebagai pendosa. Mengapa? Karena ia bekerja untuk pemerintah Roma yang kafir dan uang yang dikumpulkannya dikirim ke Roma, ke Kaiser Roma, dan sebagian dari uang itu digunakan untuk membeli bahan persembahan untuk para dewa-dewa orang Roma. Membantu orang kafir menurut konsep orang Yahudi berarti memberi diri untuk menjadi najis. Jadi di mata orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, Matius sungguh pendosa, yang sudah menajiskan dirinya karena kedekatannya dengan orang kafir. Karena itu Matius sudah seharusnya dijauhkan agar kenajisannya tidak menular kepada yang percaya kepada Tuhan.
Tetapi bagi Yesus, justru sebaliknya. Orang seperti Matius seharusnya didekati, dirangkul dan diselamatkan. Bagi Yesus, Matius adalah orang sakit yang membutuhkan dokter agar dirawat dengan baik dan boleh sembuh kembali. Yesus sadar akan tujuan kedatangan-Nya ke dunia ini: bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani; Dia datang mencari yang hilang agar dibawa kembali kepada Bapa; Dia datang sebagai dokter untuk merawat dan menyembuhkan orang sakit. Karena itu sewaktu menjawabi ngomelan orang Farisi, Yesus berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan Tabib, tetapi orang sakit.” Selain alasan yang sudah disebutkan di atas, rupanya Yesus juga sudah melihat kemampuan Matius, bahwa ia akan menjadi orang hebat di masa yang akan datang, yang bisa merangkaikan ajaran-Nya dalam bentuk tulisan, yang kita kenal sekarang yaitu Injil Matius. Matius sudah mengabadikan ajaran Yesus Kristus dalam bentuk tulisan, sehingga para pengikut-Nya dari zaman-ke zaman bisa mengetahui dan membaca-Nya.

Merenungkan situasi Matius di mata orang Farisi dan ahli Taurat, rasanya sungguh sangat menyedihkan. Menyedihkan karena mereka yang mewartakan Tuhan yang berbelaskasihan kepada umat manusia, justru tidak mewujudkan belaskasihan Tuhan kepada sesama manusia. Mereka lebih mengutamakan hukum dan adat istiadat daripada mengasihi. Panggilan Yesus sungguh satu pengalaman baru bagi Matius, satu pengalaman pembebasan. Dia, yang mungkin sudah terlalu lama dipenjarahkan oleh olokan dan sapaan pendosa oleh pemimpin agama Yahudi, kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat kini terbongkar oleh satu ajakan Yesus: “Ikutilah Aku!” Ajakan yang sangat menggembirakan itu sungguh mendorong Matius untuk segera lompat dari kursi yang membelenggu dia secara rohani selama bertugas sebagai pemungut cukai. Ajakan Penyelamat ini sungguh dimanfaatkannya dengan baik. Sebagai tanggapan atas kebaikan Tuhan, Matius mengundang teman-temannya untuk boleh bersukaria bersama dia di dalam rumahnya, di mana di sana Tuhan yang menyelamatkan Dia sudah menjadi tamu hatinya. Dia mungkin mengharapkan agar pengalamannya itu bisa menjadi inspirasi bagus bagi temannya yang lain agar boleh bertobat.

Saudara-saudariku… Apa pesan Injil bagi kita hari ini? 1) Utamakan belaskasihan daripada hukum. 2) Sadarlah selalu bahwa dalam diri seseorang pasti selalu ada beni kebaikan yang bisa dikembangkan demi kebaikan banyak orang karena itu jangan cepat-cepat menghakimi dan menganggap orang lain tidak berguna. 3) Tuhan selalu memanggil kita setiap waktu, tetapi mungkin kita terlalu sibuk dengan dengan hal-hal lain sehingga panggilan Tuhan tidak kita dengar. 4) setiap panggilan Tuhan punya tujuan dan maksud baik.
Saudara-saudari… Kita berdoa semoga Tuhan selalu sadarkan kita untuk utamakan belaskasihan daripada hukum, dan selalu siap mendengarkan dan menjawab panggilan Tuhan.
Kita memohon Bunda Maria untuk mendoakan kita. Amen.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s