Kita Adalah Sahabat Tuhan!

Siraman Rohani
Jumat 19 Mei 2017
Rm Fredy Jehadin SVD

Bacaan Injil: Yohanes 15: 12 – 17

Saudara-saudari…. Saya ingat seorang teman kelas saya. Selagi kami makan siang, tiba-tiba ia meledak teriak, muka pucat kemudian menangis sesudah membaca pesan di hp-nya. Kami semua kaget. Ada apa? Tanya teman yang duduk di sampingnya. Dia tidak bisa menjawab. Mukanya sangat pucat. Kemudian dengan suara terputus-putus dia katakan: “teman saya meninggal.” Kami cuma duduk temani dia. Kami biarkan dia menangis. Kami memegang tangannya memberi dia kekuatan. Hari berikutnya kami meminta dia kalau boleh ceriterakan siapa teman itu baginya. Mereka berasal dari wilayah yang berbeda tetapi masuk dalam satu konggregasi yang sama. Sebagai misionaris, mereka bekerja di tempat yang sama selama 20 tahun. Keduanya begitu akrab, saling meneguhkan, suka duka selalu dibagikan. Tidak ada rahasia di antara mereka. Kadang mereka marah tetapi cuma sebentar. Kematian temannya merupakan satu pukulan yg sangat besar baginya. Secara terbuka dia katakan: “Saya tidak tahu bagimana saya harus menempuh masa depanku tanpa dia. Saya merasa hidupku sudah tidak punya arti lagi. Saya kehilangan tempat bersadar, kehilangan orang yang bisa memberi saya kekuatan dan dorongan, kehilangan orang yang memberi saya kritikan yang membangun; kehilangan orang yang bisa mendengarkan suka-duka hidupku.” Itulah peranan seorang teman akrab.
Sdr… Hari ini Yesus katakan kepada para muridNya: “kamu adalah sahabat-Ku…” Sebagai sahabat, Yesus selalu bersama para murid-Nya; makan bersama mereka; membagi apa yang dimiliki-Nya; secara bebas menceriterakan apa yang ada dalam hati dan pikiran-Nya; mengajar mereka siapakah Allah Bapa. Para murid mengenal Allah Bapa lewat Yesus Kristus.
Menjadi sahabat Allah berarti seseorang secara bebas menjalin relasi cinta dengan Allah melampaui tuntutan hukum dan ketaatan buta. Seorang sahabat adalah orang yang menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.
Yesus Kristus sendiri sudah menunjukkan semuanya itu kepada para murid-Nya. Dia sangat mencintai orang yang dikasihi-Nya sampai pada kesudahannya. Cinta-Nya tanpa syarat dan selalu berpusat pada orang yang dicintai-Nya. Dia memberi hidup-Nya kepada sahabat-sahabat-Nya agar mereka boleh hidup bersama Bapa untuk selama-lamanya.
Yesus Kristus mengajar para murid-Nya satu perintah baru tentang cinta yaitu cinta sampai menyerahkan nyawa-Nya bagi sahabat-Nya. Cinta yang melampauhi perasaan ingat diri; cinta yang tidak takut akan kematian; cinta yang tidak mementingkan diri sendiri. Bukan cinta kalau tidak ada pengorban demi orang yang dicintai-Nya. Yesus Kristus mati di kayu salib karena cinta-Nya akan manusia yang dicintai-Nya. Kita baru bisa berani katakan kita mencintai Tuhan Allah dan sesama kita, kalau kita berani merangkul dan memikul salib penderitaan demi Kristus dan sesama kita.
Saudara-saudari… Kristus sudah tunjukkan bukti cinta-Nya kepada kita, sebagai sahabat-Nya. Bagaimana dengan kita? Apakah bukti cinta kita kepada-Nya, kalau Dia adalah sahabat kita? Apa yang sudah kita buat bagi-Nya sebagai ungkapan perasaan cinta kita kepada-Nya?
Kita berdoa semoga Tuhan selalu menguatkan tali persahabatan kita dengan Kristus dan selalu dengan penuh cinta melakukan segala sesuai atas dasar kasih, bukannya karena takut akan dihukum.
Kita mengajak Bunda Maria untuk mendoakan kita agar selalu layak disebut sahabat Kristus. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s