KETAMAKAN

Alkisah, seorang saudagar yang kaya raya memilki banyak perusahaan besar dan sukses. Saudagar ini terkenal sangat ramah, murah hati dan sangat baik. Karyawan-karyawannya pun sangat ramah dan selalu membuat klien terkesima dengan pelayanan mereka. Saudagar memiliki seorang istri baik hati. Namun mereka tidak memiliki keturunan. Sehingga terpikir oleh saudagar dan istrinya untuk mewariskan perusaahannya kepada orang yang baik hari dan tidak serakah juga.

Ia membuat suatu undangan bagi 80 orang, yang akan dia seleksi menjadi pewaris perusahaannya. Dia berdoa kepada Tuhan, agar dia tidak salah pilih untuk pewarisnya itu. Karena dia ingin pewarisnya dapat menjadi berkat. Akhirnya undangan berhasil di sebarkan. Dan hari seleksi pun tiba. Perasaan deg-degan oleh peserta sangat terlihat, membayangkan mereka adalah pewaris yang akan menerima perusahaan dari saugarar itu. Perserta yang berjumlah 80 orang di bagi menjadi 20 kelompok. Jadi setiap meja ada 4 orang peserta.

Di masing masing meja telah disediakan makanan makanan yang sangat lezat dan sangat enak. Semua orang terlihat sudah tidak sabar mencicipi makanan tersebut. Di meja telah disediakan juga piring dan sumpit yang sangat panjang untuk setiap peserta. Sehingga semua peserta kewalahan untuk dapat menggunakan sumpit tersebut sebagai alat untuk memasukkan makanan ke mulut mereka. Hampir semua bersungut-sungut.

Saudagar memperhatikan meja demi meja reaksi setiap peserta. Ada yang emosi dan pelan-pelan berkata dengan prasangka si saudagar tidak ikhlas untuk menjamu mereka dan beberapa ada yang pulang karena marah. Ada yang membuat makanan berjatuhan karena berusaha untuk dapat memasukkan makanan ke mulut mereka.

Si saudagar mendapati satu meja yang tidak ribut dari tadi. Malah tertawa kecil kecil sambil menyantap makanan. Mereka saling bersuapan satu sama lain, karena dengan sumpit yang panjang, mereka dengan mudah menyuapi satu meja mereka. Mereka makan dengan kenyang, dan bahagia, dan bercanda. Sehingga keakraban pun timbul diantara mereka.

Saudara terkasih, nilai apa yang dapat kita ambil dari kisah didalam cerita tersebut? Sebagai manusia kita hidup untuk saling berbagi. Kita disediakan dua tangan untuk dapat memberikan yang di butuhkan sesama kita. Fokus pada diri sendiri, membuat kita tidak berarti. Namun fokus untuk saling memberi, akan membuat kita semua merasakan arti suka cita kehidupan ini.

Sering kita manusia selaku fokus pada kata “aku” bukan “kita”. Ketemakan merupakan sifat kita yang selalu ingin di utamakan. Sehingga sampai akhir hayat hidup kita, tidak pernah mengalami sukacita dari berbagi. Kita merasa dirugikan ketika memberi dan dan berbalas. Padahal seyogianya kita disiptakan untuk saling berbagi. Sehingga saling melengkapi.

Ketamakanlah yang membuat begitu banyaknya kita dengan kasus korupsi yang sudah menjadi budaya bangsa kita. Fenomena menyuap untuk mendapat pekerjaan atau posisi tertentu sudah menjadi hal biasa dan tidak dianggap dosa lagi. Sehingga berusaha keras untuk mengembalikan uang sogokan dengan jalan korupsi. Hati nurani sudah kalah oleh sifat tamak. Marilah kita saling berbagi dan mengingatkan kebenaran satu sama lain, kiranya hidup kita semakain baik untuk hari hari selanjutnya.

Source: Youtube.com
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s