Lima Bola Kehidupan

Sedang menghadapi dilema di dalam pekerjaan, tidak jarang saya begitu sering mengeluh dan curhat kepada suami saya. Suami saya selalu merespon dengan cerita – cerita yang dia baca. Pada saat dia memberikan kata penyemangat kepada saya. Suami saya sering membuat saya tertegun saat dia menceritakan apa yang ia dapat dari buku – buku yang dia baca. Sering karena saya tertarik mendengar sang suami bercerita, akhirnya saya juga ingin membaca buku tersebut. Sehingga kami suka sharing refleksi tentang makna apa yang kami dapat dari buku tersebut. Kami percaya, bahawa masing- masing orang mendapat pesan yang berbeda dari apa yang dia baca.

Pernah suatu hari, saat suami saya baru pulang bekerja, saya langsung menyambut dia dengan muka sedih dan memeluk dia. Dia pun merangkul saya dan bertanya apa yang membuat saya sedih. Saya menceritakan bahwa saya baru saja berkelahi dengan atasan dan officer di bagian saya bekerja. Masalahnya sepele, karena salah satu officer kehilangan kupon minyak goreng, saya di tegur habis – habisan sama atasan saya. Kesalahan saya saat itu adalah, saya meletakkan kupon minyak di meja officer tersebut, saat dia tidak ada di meja kerjanya. Saya akui kesalahan saya, tapi atasan saya menegur saya membuat saya terpancing emosi.

Saat itu saya memberikan kupon saya ke officer saya, dengan sikap emosi. Sebenarnya kondisi bagian saya di tempat saya bekerja, sudah sangat membuat saya tidak nyaman. Tetapi karena alasan ekonomi, saya memilih bertahan. Sudah sering saya mengadukan isi hati saya ini kepada suami saya. Sikap suami saya, menyuruh saya untuk mengundurkan diri. Karena pekerjaan bisa dicari, tapi kesehatan itu tidak ada gantinya jika saya sampai sakit. Namun, saya masih belum bisa memilih untuk resign, karena saya ingin bisa membantu suami saya. Kami masih keluarga muda, yang membutuhkan kestabilan ekonomi. Itu pikir saya. Dan saya juga masih ingin bisa memberikan bantuan pada adik saya. Jika semua dari suami saya, saya khawatir akan membuat ekonomi tidak stabil.

Sering suami saya bingung melihat sikap saya. Dia mengatakan, bahwa kesehatan jauh lebih penting. Tuhan pasti akan bantu. Sehingga mungkin karena bingungnya, suami saya suatu hari memberikan saya membaca buku, dan ada bagian judul yang judulnya adalah BOLA KARET. Saya membaca buku tersebut. Saya tertegun membacanya, karena pesan yang di sampaikan sangat tepat untuk saya. Buku 100 Inspiring Stories oleh Xavier Quentine berhasil membuat saya seperti move on dari situasi galau. Sehingga perlahan saya bisa mengambil sikap atas situasi tempat saya bekerja. Jika saya memilih masih ingin bekerja, saya akan mendoakan tempat saya bekerja, sehingga saya semakin bijak dan berhikmat di sana.

Didalam buku tersebut di katakan bahwa kita jangan sampai lebih memilih pekerjaan kita, di bandingkan kesehatan, keluarga, dan hubungan kita dengan Tuhan. Kita lebih baik mengorbankan pekerjaan kita di banding kesehatan, keluarga, dan hubungan kita dengan Tuhan. Pekerjaan seperti bola karet, yang di lempar jauh dan sekeras apapun tidak akan pecah. Namun kesehatan, keluarga dan hubungan kita dengan Tuhan, itu ibarat bola kaca. Jika jatuh akan pecah sehingga hancur, bahkan akan melukai kita dan orang lain bahkan.

Pekerjaan bisa di cari kembali, namun kesehatan, keluarga dan hubungan dengan Tuhan, jiak di korbankan, akan membawa kehancuran. Itulah pesan buku 100 Inspiring Stories tersebut. Sangat inspiratif.

Source: http://www.xavier.web.id/
Source: http://www.xavier.web.id/
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s