Bersabdalah Saja Ya, Tuhan! Maka Kami akan Sembuh

Ditimpa kecelakaan adalah pengalaman nahas. Hampir setiap insan menghindarinya. Namun, pada Sabtu (15 Oktober 2016) lalu, itu menimpa adik kami, Novrizan Barus. Serentetan kabar tentang luka dan (kemungkinan) cacat yang bakal dialaminya disampaikan Istri saya melalui ponsel. Panik dan kesal juga amarah turut terkandung dalam pesan-pesan itu. Ini wajar saja.

Saat jumpa di tempat perobatan patah tulang, kami sekeluarga akhirnya mendapati kepastian bahwa tulang paha kiri atau femur yang patah. Sementara lainnya luka lecet karena terserempet di aspal jalan. Bukan memori kecelakaan ataupun kemungkinan cacat yang merisaukan Izan (sapaannya). Melainkan: Apakah mungkin dia akan bisa menjalani sidang skripsi untuk meraih gelar sarjana?

Pertanyaan tersebut ringkas saja. Tetapi tidak seringkas itu juga dalam menuntaskannya. Terutama dengan kondisi tubuhnya yang tidak bisa duduk di kursi biasa. Beberapa jam sebelum kecelakaan tersebut, Izan telah mengedarkan undangan sidang yang semestinya berlangsung pada hari Senin (17 Oktober 2016). Sudah terlambat, karena saat kami merundingkan hal tersebut bersama keluarga sudah terlewat satu hari. Apa yang harus diperbuat? Fikiran kami serasa buntu. Hanya satu yang benar-benar hadir ‘mengulurkan tangan’. Yakni Tuhan Yesus.

Saya teringat, bertanya pada Izan: “Apakah kam (kamu) benar-benar siap menjalani sidang skripsi, dek (adik)?”

“Seandainya bisa, bang. Hari ini juga aku siap!”

Aku melihat matanya yang sungguh-sungguh. Saat itu, aku akan tersadar bahwa dua minggu setelah sidang skripsi Izan mendapati ilham kudus ini, ketika membaca Kitab Yohanes 5:6-9:

Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?”

Kata Yesus kepadanya: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.”

Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan.

 

Sebab itu kami terkesiap dengan semangat Izan. Baik bila demikian, mari kita doakan bersama. Rintangan awal adalah Izan tidak dapat duduk di kursi roda sebab kondisi kaki belum bisa ditekuk. Kedua, kendaraan untuk menghantarnya ke kampus mestilah ambulans karena kondisi di awal tadi, sehingga berbaring selama perjalanan. Di samping itu jadwal dan undangan sidang harus dikaji bersama pihak kampus. Serta beberapa ihwal lainnya.

Langkah-langkah yang dituntun Tuhan sesungguhnya kasat mata. Pihak kampus menyatakan turut prihatin dan siap membantu untuk persiapan sidang Izan. “Kami tak sangka dia begitu semangat. Sebagai dosen pembimbingnya, saya siap pertaruhkan jabatan untuk membantu anak kami ini,” ujar bapak Sahbudin, kala kami bertemu di ruang kantornya.

Dari satu dan ke lain tempat Bastanta, adik kami, juga hilir mudik dan lekas menemukan pihak Palang Merah Indonesia yang bersedia menyewakan ambulans terbaik mereka. Jadwal sidang dan ambulans sudah klop. Kemudian, seorang teman sekampus Izan, mengatakan sanggup mengontak penyedia makanan untuk penganan dosen penguji. Hari Senin (14 November 2016) pun ditetapkan sebagai hari bersejarah dalam hidup Izan: sidang skripsi akhir!

 

Kata Yesus kepadanya: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.”

Dan pada saat juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan.

Bangunlah dan berjalanlah!

Novrizan bersama ibu mertua saya. Masih sempat bergaya-gaya di ambulans. :) (dok. Pribadi)
Novrizan bersama ibu mertua saya. Masih sempat bergaya-gaya di ambulans. 🙂 (dok. Pribadi)

Ambulans semestinya lebih tepat menyambangi Rumah Sakit, bukan kampus. Maka ketika hal tersebut terjadi, tentu saja puluhan mata akan terjerat. Ada apa ini? Mereka mendapati seorang mahasiwa mengenakan setelan jas lengkap dengan dasi dan selimut putih, dan (untungnya) tanpa tiang infus dan aroma karbol.

Semakin terperangah mereka saat diberitahu bahwa Izan akan menghadapi sidang skripsi. Astaga! Ini kali pertama seorang pesakitan dengan gagah menjalani ‘pertempuran’ terakhirnya. Bahkan dengan kondisi duduk di atas ranjang pula. Meski disebut pertempuran, sesungguhnya itu adalah pertarungan Izan dengan dirinya sendiri. Bukan dengan para dosen penguji yang kerap diandaikan gerombolan monster kejam. Hal tersebut sungguh jauh dari bayangan.

Semua berjalan baik. Bahkan seorang dosen lain yang juga memerankan profesi wartawan menyempatkan wawancara sejenak dengan Izan. Kemudian memotret dia dengan mertua dan para dosen penguji. Dan, hampir terlupa, Istri terkasih yang anggun mengenakan kaus oblong Sabang. Potret dan berita itu pun mampir di tiga media cetak di kota Medan. Satu diantaranya dimuat di laman ini.

foto yang dimuat di Harian Analisa
foto yang dimuat di Harian Analisa

Sungguh besar rahmat Tuhan! Demikian kami meyimpulkan peristiwa tersebut. Dari nahas hingga kemenangan Izan meraih gelar sarjananya. Benarlah doa si perwira kepada Yesus: “Bersabda sajalah ya, Tuhan. Maka saya akan sembuh.” Izan telah menyatakan iman keyakinan bahwa dia mampu menghadapi tantangan itu. Namun tetap berdoa agar Allah mencurahkan sabda agar ‘sembuh’ dari keraguan, kekhawatiran. Sabda itu tak hanya telah lama diucapkan Yesus sendiri, bahkan tetap hidup. Sebagaimana dalam pengalaman Izan ini sendiri. Terngiang lagi saat saya menemukan sabda-Nya di pagi ini: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.” Amin.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s