Memetik kembali Buah Syukur

Minggu, 9 Oktober 2016 | Hari Minggu Biasa XXVIII

Memetik kembali Buah Syukur

Bacaan

2Raj. 5:14-17; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4; 2Tim. 2:8-13; Luk. 17:11-19

 

Injil: Luk. 11:11-19

Luk 17:11             Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea.

Luk 17:12             Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh

Luk 17:13             dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”

Luk 17:14             Lalu Ia memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir.

Luk 17:15             Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring,

Luk 17:16             lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.

Luk 17:17             Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?

Luk 17:18             Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”

Luk 17:19             Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”

 

Permenungan

Bunuh diri! Kiranya inilah keputusan seorang mantan narapidana. Karena merasa hidupnya tidak lagi berguna. Terlebih-lebih kejahatannya di masa lalu membuat orang-orang menjauhi dirinya. Namun sebelum bunuh diri, orang itu hendak menemui dokter yang mungkin dapat memberinya obat tidur dengan dosis tinggi. Biarlah aku mati dengan cara tenang, fikirnya.

Saat bertemu, si dokter malah menyuruh dia mencoba cara bunuh diri yang ksatria. “Cobalah kau berlari di lapangan olahraga dekat rumah sakit ini. Berlarilah! Berlari sampai capek sekali. Paksakan terus berlari agar jantungmu pecah dan kau pun bisa mati secara ksatria,” katanya.

Dia pun menyetujui usul si dokter dan berlari dengan sekencang-kencangnya. Bukannya mati, dia malah menemukan hal baru dalam dirinya: kemampuan berlari dalam waktu lama. Ketika masih terengah-engah usai berlari, si dokter itu datang menyapa. Dia pun merasa malu. “Bagaimana menurutmu sekarang? Lihat kau sudah mencoba berlari dan berlari. Kuberitahu satu hal, masalahmu adalah dirimu sendiri yang tidak mensyukuri hidupmu. Kau terlalu berpusat pada penderitaannmu dan lupa bahwa kau memiliki harta yang tak bisa dirampas orang lain. Yaitu, keyakinan dan rasa syukur.”

Sahabat Renkat! Kisah seorang (dari sepuluh) penderita kusta yang kembali pada Yesus setelah disembuhkan, seperti ‘menampar’ kita. Yakni belajar untuk memetik kembali ‘buah syukur’. Berkali-kali kita tidak menyadari rahmat yang dianugerahkan dalam perjalanan hidup, namun jarang kembali mengucap terima kasih serta syukur kepada-Nya.

Kisah ini hendaknya menjadi siraman kepada iman yang gersang. Agar mata dan hati kita selalu terbuka bahwa berkat dari Allah yang menyertai kita manusia, laksana anak kesayangan-Nya sendiri.

Pujilah Tuhan selalu!

 

Pustaka: ImanKatolik.or.id | Ziarah Batin 2016

Foto ilustrasi: Ananta Bangun
Foto ilustrasi: Ananta Bangun
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s