Menjadi Saudara, Ibu Tuhan kita

Selasa, 20 September 2016 | Peringatan Wajib St. Andreas Kim Taegon dan St. Paulus Chong Hasang

Menjadi Saudara, Ibu Tuhan kita

Renungan-Katolik.com – Saat kali pertama bekerja di dunia media, saya tetap terkesan mengingat pernah menjalin keakraban dengan seorang bapa tua bernama Rahman. Ia senang saya sapa ‘Abah Rahman’. Walau kami sangat banyak berbeda latar belakang, namun dia tak sungkan menganggap saya seperti anaknya sendiri. Padahal saya tak banyak berbuat kebaikan kepadanya. Saya hanya sekedar kerap mendengar dia bertuah, atau pun sekedar berbagi cerita humor.

Sabda Allah pada hari ini, mengingatkan pada kenangan persahabatan tersebut. Adalah sukacita besar menjadi saudara, bahkan ibu dari Tuhan kita, melalui tindak mendengar serta melaksanakan firman Allah.

Kasih-Nya tidak hanya ditampilkan pada kata semata, namun sungguh besar hingga Dia berkenan menderita dan mati demi penebusan dosa-dosa kita manusia. Bagaimanakah kita dapat membalas kasih-Nya ini?

Terpujilah Tuhan selalu. Amin.

 

Sumber Permenungan:

Bacaan pertama: Ams. 21:1-6,10-13

Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini.

Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.

Melakukan kebenaran dan keadilan lebih dikenan TUHAN dari pada korban.

Mata yang congkak dan hati yang sombong, yang menjadi pelita orang fasik, adalah dosa.

Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan.

Memperoleh harta benda dengan lidah dusta adalah kesia-siaan yang lenyap dari orang yang mencari maut.

Hati orang fasik mengingini kejahatan dan ia tidak menaruh belas kasihan kepada sesamanya.

Jikalau si pencemooh dihukum, orang yang tak berpengalaman menjadi bijak, dan jikalau orang bijak diberi pengajaran, ia akan beroleh pengetahuan.

Yang Mahaadil memperhatikan rumah orang fasik, dan menjerumuskan orang fasik ke dalam kecelakaan.

Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru.

 

Mazmur:    Mzm. 119:1,27,30,34,35,44

 

Bacaan Injil:   Luk. 8:19-21

Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak.

Orang memberitahukan kepada-Nya: “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.”

Tetapi Ia menjawab mereka: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.”

 

Pustaka: ImanKatolik.or.id | Ziarah Batin 2016

Sumber: http://www.catholic.org/files/images/ins_news/2015092541.jpg
Sumber: http://www.catholic.org/files/images/ins_news/2015092541.jpg
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s