Menyuburkan Nasihat Baik dalam Hidup

Sabtu, 17 September 2016 | Robertus Bellarminus

 Menyuburkan Nasihat Baik dalam Hidup

Renungan-Katolik.com – Suatu kali aku ngobrol dengan seorang anak kecil. Anak itu bertanya banyak hal yang ingin dia ketahui. Dia mendengarkan dengan seksama. Beberapa hari kemudian orang tunya bertanya apa yang kami bicarakan kok anaknya jadi berubah setelah omong-omong dengan saya. Ternyata si anak itu sungguh mendengarkan dan menjalankannya.

Tuhan bersabda bahwa benih yang baik akan bertumbuh dengan baik jikalau jatuh di tanah yang baik. “Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan” (Luk 8:15).

Ada banyak nasehat yang sering diperdengarkan di telinga kita. Namun dari sekian banyak nasihat tersebut hanya sebagian yang kita dengarkan dan perhatikan dengan sungguh-sungguh. Nasehat-nasehat yang kita perhatikan tumbuh subur dalam hidup kita dan sangat membentuk diri kita. Maka rasanya marilah kita suburkan nasehat-nasehat baik dalam hidup kita.

Kontemplasi: 
Pejamkan matamu. Ingatlah satu dua nasehat yang membentuk dirimu sekarang ini.

Refleksi: 
Bagaimana menangkap dan menyuburkan kebaikan-kebaikan yang berseliweran di sekitarmu?

Doa: 
Tuhan semoga aku mampu menjaga, merawat dan menumbuhkan kesuburan benih yang kautaburkan dalam hidupku. Amin.

Perutusan:
Aku akan merawat dan menumbuhkan benih yang baik dalam hidupku

-nasp-

 

Sumber Permenungan:

Bacaan Pertama: 1Kor. 15:35-37,42-49

Tetapi mungkin ada orang yang bertanya: “Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?”

Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati dahulu.

Dan yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi biji yang tidak berkulit, umpamanya biji gandum atau biji lain.

Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan.

Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan.

Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah.

Seperti ada tertulis: “Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup”, tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan.

Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah; kemudian barulah datang yang rohaniah.

Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga.

Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga.

Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi.

 

Mazmur: Mzm. 56:10,11-12,13-14

 

Bacaan Injil: Luk. 8:4-15

Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan:

“Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis.

Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air.

Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati.

Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.” Setelah berkata demikian Yesus berseru: “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu.

Lalu Ia menjawab: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.

Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah.

Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.

Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad.

Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.

Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.”

 

Pustaka: ImanKatolik.or.id | Ziarah Batin 2016

Copyright: suarakebenaran.org
Copyright: suarakebenaran.org
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s