Bapa yang Bodoh

Bapa yang ‘Bodoh’

Seorang anak mendatangi bapa-nya untuk meminta sesuatu. Ternyata sesuatu itu adalah harta warisan. Permintaan tersebut sungguh lancang. Bagaimana tidak!? Si anak meminta warisan tersebut ketika orangtuanya masih hidup. Bukankah berarti dia menganggap bapa-nya mati.

Bukannya tersinggung, si bapa malah mengabulkan permohonan putra bungsu-nya itu. Tentu saja pemuda itu girang kepalang. Di hari-hari berikutnya, si bapa yang bodoh itu, hanya mendapat kabar bahwa anak-nya berpesta pora semalam-malaman dengan uang warisan tersebut. Petualangan bersenang-senang si anak bungsu itupun berlangsung hingga ke tempat yang jauh.

Akibat satu bencana besar terjadilah kelaparan hebat di negeri yang dikunjungi si anak bungsu tadi. Uang yang dimilikinya telah habis. Temannya bersenang-senang tak satu pun bersedia membantu. Karena keadaan tersebut, dia pun bekerja sebagai penjaga ternak seorang kaya di situ. Terkadang karena lapar yang mendera, si anak bungsu itu memakan pakan ternak yang dijaganya.

Muncullah penyesalan yang besar, dia ingin kembali ke rumah bapa-nya. Kiranya bapa berkenan mengampuni aku, ia membatin. Sembari dalam perjalanan pulang, si anak bungsu itu memikirkan kata penyesalan yang baik untuk orangtua-nya.

Ketika hampir sampai ke rumah orangtua-nya, si bapa telah melihat putra bungsu dari kejauhan. Dengan segera ia berlari mengejar anak-nya itu. Dan lekas menyuruh pembantunya agar memberi pakaian terbaik untuk anak-nya, juga menyelenggarakan pesta besar karena putra-nya telah kembali dengan selamat. Si bapa tidak menghiraukan kebodohannya memberi uang warisan bagi anak-nya, juga kebodohannya karena menerima kembali anak-nya yang lancang itu. Bag dirinya, si anak telah menyesal dan sepenuhnya kembali ke rumah dalam keadaan selamat.

Copyright: http://www.soulshepherding.org/
Copyright: http://www.soulshepherding.org/

Verbatim:

Kisah ini disampaikan Jose M. de Mesa – Profesor Teologi Sistematis Terapan di Universitas De La Salle – Manilla, Filipina – dalam satu seminar Asia Communication Network di STFT St. Yohanes – Pematangsiantar. Seminar yang berlangsung pada 31 Agustus – 5 September 2016 ini didukung oleh Signis Asia. Saya turut serta sebagai utusan dari Komisi Komsos (Komunikasi Sosial) Keuskupan Agung Medan.

Karakter “bapa yang bodoh” sedikit menggelitik saya, hingga coba menghampiri Jose. “Menurut saya frasa ‘bapa yang bodoh’ itu cukup kasar. Atau apakah anda berkenan memberi penjelasan tentang frasa ini?” tanya saya.

“Oh, ya,” celetuk Jose sembari mengernyitkan dahi. “Tentu menurutmu ini amat kasar. Baiklah, tak mengapa. Dalam pendapat saya, kata ‘bodoh’ lebih mengarah pada ‘insensible’. Bapa tidak menempatkan segala logika manusia tentang pengampunan.”

“Nah. Apakah kau tahu gambar yang dilukis Rembrandt ini, tentang kisah anak hilang itu?”

“Ya. Tentu saja, saya pernah baca di satu buku.”

“Perhatikan tangan si bapa itu, apakah yang kiri dan kana serupa. Tidak kan? Itu adalah perwakilan tangan orangtua. Yakni tangan bapa dan ibu sekaligus.”

Nah! Dan semuanya menjadi terang.

hand-of-the-father

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s