Jiwa Bunda yang Tegar

Kamis, 15 September 2016 | Peringatan Wajib SP Maria Berdukacita

Jiwa Bunda yang Tegar

Renungan-Katolik.com – Ayat Injil dalam renungan pagi ini acapkali saya baca. Sepintas tiada yang istimewa. Tetapi saat membaca refleksi dalam buku ”Tiada Kata Tanpa Makna” tulisan Romo Joseph Susanto, sungguh dalam kandungan maknanya.

Perihal Maria yang ‘berdiri’ di dekat salib Yesus bukan sekedar termangu. Ataupun pasif. Namun, begitu besar jiwa-nya mendampingi putra Allah hingga ajal menjemput. Betapa tegar Maria menjalani peran yang diembankan Bapa kepada-nya, semenjak ia berkata: “Terjadilah padaku seturut kehendak-Mu.”

Tidak hanya susah payah mencari tempat bermalam hingga bersalin. Bahkan dia dan suaminya, Yosef, harus melarikan diri ke Mesir untuk menghindari pembantaian dari Raja Herodes. Dan terakhir, tentu saja menatap Putra Allah yang lahir dari rahim-nya mati di kayu salib.

Dalam permenungan ini, Maria tidak sekedar ibu yang melahirkan Yesus sebagai penebus manusia belaka. Ia adalah bunda yang tegar mempersiapkan Mesias untuk mewartakan sukacita sampai hari penebusan. Ketegaran yang telah dinubuatkan oleh Simeon kala dia dan suaminya menghantar bayi Yesus: “Sebilah pedang akan menembus jiwamu!” Siapakah ibu yang sanggup berdiri menatap dan mengikhlaskan putranya mati di hadapannya sendiri?

 

Sumber Permenungan:

Bacaan Pertama: 1Kor. 15:1-11

Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri.

Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu?kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya.

Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,

bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;

bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya.

Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal.

Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul.

Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.

Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.

Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.

Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya.

 

Mzm 31:2-3a,3b-4,5-6,15-16, 20

 

Bacaan Injil: Yoh. 19:25-27

Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.

Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!”

Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

 

Pustaka: ImanKatolik.or.id | Ziarah Batin 2016 | Tiada Kata Tanpa Makna

Copyright: thepreachersword.com
Copyright: thepreachersword.com
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s