Salib Lambang Kristiani

Rabu, 14 September 2016 | Pesta Salib Suci

Salib Lambang Kristiani

Renungan-Katolik.com – Seorang anak bertanya pada ibu-nya: Mengapa salib tergantung di dinding rumah mereka? Dia juga mendapati salib tergantung di rumah paman, dan juga kakek-nya. Namun model salib yang terdapat di masing-masing rumah berbeda.

Agak kaget, si ibu menjawab dengan lembut bahwa salib adalah lambang keselamatan bagi orang Kristen. Yesus, Sang Juruselamat, telah bangkit usai melalui penderitaan hingga mati di kayu salib. “Penderitaan itu dilalui Yesus untuk menebus dosa-dosa asal kita. Namun, Ia telah bangkit mengalahkan maut dimana kebangkitan-Nya menjamin keselamatan dan kebangkitan umat manusia kelak,” ujar si ibu sembari mengusap kepala anak-nya yang mengangguk mengerti.

Sahabats RenKat! Pada hari ini kita merayakan rasa syukur serta cinta kasih kita kepada Yesus melalui penghormatan kita kepada Salib. Dulu salib merupakan lambang kehinaan yang paling mengerikan. Para penjahat yang dihukum mati dengan pedang diselamatkan dari “kehinaan” salib. Yesus memilih untuk melakukan pengorbanan yang paling besar untuk memperoleh keselamatan bagi kita. Ia memilih penderitaan salib. Bersama dengan penderitaan-Nya itu, Ia juga dihinakan.

Sejak itu, Salib menjadi lambang Kristiani yang paling suci. Tubuh Yesus yang menderita di atasnya kita sebut Corpus. Salib di dinding kamar kita atau salib di sekeliling leher kita mempunyai arti yang amat penting. Mereka mengingatkan kita bahwa Yesus telah membayar lunas harga kita.

Umat Kristiani senantiasa menghormati serta mencintai lambang Salib. Kata “Salib” juga dapat berarti penderitaan yang datang menimpa kita. Jika kita menerima penderitaan-penderitaan tersebut dengan cinta dan kesabaran seperti Yesus menerima salib-Nya, kita telah rela “memanggul salib” seperti Yesus.

 

Sumber Permenungan:

 

Bacaan Pertama: Bil. 21:4-9

Setelah mereka berangkat dari gunung Hor, berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah Edom, maka bangsa itu tidak dapat lagi menahan hati di tengah jalan.

Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak.”

Lalu TUHAN menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati.

Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata: “Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan TUHAN dan engkau; berdoalah kepada TUHAN, supaya dijauhkan-Nya ular-ular ini dari pada kami.” Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu.

Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.”

Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.

 

Mazmur:  Mzm. 78:1-2,34-35,36-37,38

Bacaan Kedua:  Flp. 2:6-11

yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,

melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,

supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,

dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!

 

Bacaan Injil:  Yoh. 3:13-17

Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.

Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,

supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.

 

Sumber: ImanKatolik.or.id | Ziarah Batin 2016 | yesaya.indocell.net

Copyright: www.imgion.com
Copyright: http://www.imgion.com

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s