Mencari Yesus dengan Motivasi Keliru?

Sabtu, 4 September 2016 | Minggu Biasa XXIII Hari Minggu Kitab Suci Nasional

Mencari Yesus dengan Motivasi Keliru?

Renungan-Katolik.com – Selamat hari Minggu, Sahabat RenKat! Dalam renungan hari ini, kita belajar bahwa tidak sedikit di antara kita yang rajin mencari Yesus karena motivasi-motivasi yang keliru.

Mencari Yesus itu tentu baik. Tapi itu hanya baik jika didasari motivasi yang benar. Kenyataannya banyak orang yang akhirnya sibuk mencari Yesus bukan karena mengalami pertobatan yang sesungguhnya atau ingin hidup yang diperbaharui namun karena kita mempunyai daftar permintaan yang sangat panjang untuk dibawa kepadaNya.

Maksud-maksud terselubung seperti ini sesungguhnya tidak lah menjadi dasar yang baik untuk mencari Yesus. Seperti yang saya katakan di awal, ada orang yang mencari Yesus karena usahanya bangkrut, sedang sakit, ingin mendapatkan jodoh, terlilit masalah dan sebagainya.

Tidak jarang pula yang menjadikan Yesus sebagai pintu gerbang pertolongan terakhir, ketika semua usaha dan daya upaya yang dilakukan semua tidak berhasil. Siapa tahu Yesus bisa menolong, begitu pikir kita. Yesus jelas lebih dari sanggup melakukan mukjizat dan memberikan apa yang kita inginkan.

Saya juga merasa tertampar saat menulis permenungan ini. Sebab saya juga salah satu penuntut berkat yang banyak dari Tuhan. Injil hari ini juga mengkaitkan tentang hal tulus mencari Yesus. Kita dituntut untuk lebih mementingkan Allah di banding kebutuhan pribadi kita.

 

Sumber Permenungan:

Bacaan I: Keb. 9:13-18

Manusia manakah dapat mengenal rencana Allah, atau siapakah dapat memikirkan apa yang dikehendaki Tuhan?

Pikiran segala makhluk yang fana adalah hina, dan pertimbangan kami ini tidak tetap.

Sebab jiwa dibebani badan yang fana, dan kemah dari tanah memberatkan budi yang banyak berpikir.

Sukar kami menerka apa yang ada di bumi, dan dengan susah payah kami menemukan apa yang ada di tangan, tapi siapa gerangan telah menyelami apa yang ada di sorga?

Siapa gerangan sampai mengenal kehendak-Mu, kalau Engkau sendiri tidak menganugerahkan kebijaksanaan, dan jika Roh Kudus-Mu dari atas tidak Kauutus?

Demikianlah diluruskan lorong orang yang ada di bumi, dan kepada manusia diajarkan apa yang berkenan pada-Mu, maka oleh kebijaksanaan mereka diselamatkan.”

 

Mazmur:  Mzm. 90:3-4,5-6,12-13,14,17

 

Bacaan II:  Flm. 9b-10,12-17

Aku, Paulus, yang sudah menjadi tua, lagipula sekarang dipenjarakan karena Kristus Yesus, mengajukan permintaan kepadamu mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus.

Dia kusuruh kembali kepadamu  dia, yaitu buah hatiku.

Sebenarnya aku mau menahan dia di sini sebagai gantimu untuk melayani aku selama aku dipenjarakan karena Injil, tetapi tanpa persetujuanmu, aku tidak mau berbuat sesuatu, supaya yang baik itu jangan engkau lakukan seolah-olah dengan paksa, melainkan dengan sukarela.

Sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak dari padamu, supaya engkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya, bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari pada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih, bagiku sudah demikian, apalagi bagimu, baik secara manusia maupun di dalam Tuhan.

Kalau engkau menganggap aku temanmu seiman, terimalah dia seperti aku sendiri.

 

Bacaan Injil: Luk. 14:25-33

Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka:

“Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?

Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.

Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang?

Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.

Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.

 

Pustaka: ImanKatolik.or.id | Ziarah Batin 2016

Sumber gambar: http://www.audreyanastasi.com/
Sumber gambar: http://www.audreyanastasi.com/
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s