Berpuasa dengan Tujuan Rohani

Jumat, 2 September 2016 | Hari Biasa

Berpuasa dengan Tujuan Rohani

Renungan-Katolik.com – Selamat pagi, Sahabat RenKat! Bagi banyak orang, berpuasa adalah saat dimana kita harus menahan lapar sampai batas waktu yang ditentukan. Untuk orang yang sedang berdiet, mereka akan mengurangi porsi makan atau bahkan berhenti dari kebiasaan mengemil.

Lantas apa makna puasa bagi orang Kristen? Puasa adalah menahan keinginan kita untuk tujuan rohani. Ada hal-hal yang harus dilawan dengan berpuasa. Mungkin kita sudah mengerahkan semua kekuatan kita, akan tetapi masalah itu masih saja tetap menghimpit kita, maka kita perlu berpuasa. Tujuan berpuasa adalah untuk memperkuat permohonan kita secara khusus kepada Allah.

Berpuasa tanpa disertai tujuan rohani adalah puasa yang tidak berkenan kepada Allah. Berpuasa seperti itu sama saja dengan orang yang sedang ber-diet. Berpuasa tanpa tujuan rohani hanya akan menyengsarakan tubuh kita saja. Kerohanian juga tidak bisa bertumbuh. Kualitas iman juga masih akan tetap sama.

Berpuasa adalah tanda bahwa kita takut dan berserah kepada Tuhan. Berpuasa sama halnya kita telah membuka hati sepenuhnya dan membiarkan Tuhan bekerja dalam kehidupan kita.

Injil hari ini juga tentang hal berpuasa. Orang Jahudi berpuasa 2 kali dalam seminggu. Senin dan Kamis. Namun semasa Yesus, murid  – muridnya tidak berpuasa. Karena Yesus sang pengantin sedang bersama mereka. Istilahnya mereka sedang bergembira. Namun pada saat Yesus wafat mereka berpuasa.

 

Sumber Permenungan:

Bacaan I: 1Kor. 4:1-5

Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah.

Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.

Bagiku sedikit sekali artinya entahkah aku dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia. Malahan diriku sendiripun tidak kuhakimi.

Sebab memang aku tidak sadar akan sesuatu, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan. Dia, yang menghakimi aku, ialah Tuhan.

Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.

 

 Mazmur:  Mzm. 37:3-4,5-6,27-28,39-40

 

Bacaan Injil:  Luk. 5:33-39

Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: “Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum.”

Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka?

Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”

Ia mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka: “Tidak seorangpun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu.

Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itupun hancur.

Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.

Dan tidak seorangpun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik.”

 

Pustaka: ImanKatolik.or.id | Ziarah Batin 2016

Sumber gambar: litenuf.co.za
Sumber gambar: litenuf.co.za
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s