MANA SENYUMNYA?

MANA SENYUMNYA?

 

‘Belikan Mama ayam goreng ya, Pa’. Secarik pesan seluler mampir di ponsel Jonathan.

‘Kok tiba-tiba mau ayam goreng, Ma?’ Jon balik balas pesan itu. Sebentar kemudian, dering ponsel menuntut diangkat. Sang penelpon : [Love Mama – Vivian].

“Iya. Hallo, Ma.”

“Pa. Tadi Mama baru lihat iklan Ayam Goreng, jadi kepengen. Hihihi.”

“Lha. Cuti kerja kok malah dihabisin nonton TV?,” Jon heran.

“Kan, Mama sudah bersihin rumah dan cuci baju. Jadi boleh lah dapat bonus permintaan khusus,” Vivian mulai dongkol. Suaminya bukan tanya ayam goreng kesukaannya, tetapi tanya-tanya seperti interogasi teroris.

“Hmmmphh. Iya, deh. Sebentar lagi Papa pulang kerja, terus singgah ke Mongonsidi ya. Di situ paling dekat dari kantor,” Jon coba mengelus perasaan kesal Istrinya. Terasa dari nada suara yang meninggi tadi.

“I love you, my Papah.”

“Ya. Love you.”

***

Medan, pada pukul 17.13 wib, bukan waktu yang bersahabat bagi pengendara. Kendaraan tumpah ruah dari berbagai penjuru, dan tergesa-gesa menyusur jalannya masing-masing. “Untunglah masih ada senyum Dian Sastro,” kata Jon membathin. Ia menatap baliho yang mengangkangi rambu jalan Wolter Mongonsidi.

Aih, tapi bibir dan giginya kok seperti terlalu maju. “Bah. Jadi mirip mahluk penghisap darah,” rutuknya.

Gerung mesin, kepulan asap dari knalpot, dan teriak-teriak klakson berbaur. Jon jadi nanar. Mungkin gara-gara itu semua senyum Dian Sastro berubah seram. ‘Bajingan,’ ia mengutuk. Karena kendaraan dari simpang kirinya tetap santai melaju meskipun jalur jalannya menunjukkan angka 5 hijau.

***

Ruang parkir di warung modern tersebut sebenarnya cukup lega. Musababnya, banyak motor diparkir di bawah teduh pohon. Sayangnya tidak begitu banyak mendapat berkah dari sang pohon nan gagah di samping pelataran perhentian kendaraan itu. Sisanya, ya itu tadi: ‘disirami’ cahaya matahari berlimpah.

Terpaksa parkir di tempat panas bikin hatinya lebih lagi (panasnya). “Tak terbayangkan bagaimana bokongku akan hangus sejenak karena panas ini,” ucap Jon yang keheranan matahari masih betah menyemburat panas di jam sesore itu.

“Selamat sore, bapak. Mau pesan paket apa? Ada …. bla… bla… bla…”

Jon merasa otaknya berkurang sekilo karena dicecoki paket berbahasa planet yang tak dia mengerti. “Ya. Kasih saya paket yang ada ayam gorengnya,” jawabnya sembarang, seraya menyerahkan selembar senyum presiden.

“Baik, Pak. Pesanannya paket bla… bla… bla… sudah kami siapkan. Ini mau dibungkus plastik atau kotak saja, bapak?”

“Hnggghh… Apa!?,” Jon kaget. “Oh itu. Ya, bisa dibungkus yang mana saja, asal bukan dibungkus kain kafan.”

***

Suara motor batuk-batuk di depan rumah bikin Istri Jon terkesiap sejenak. Lalu dia buka pintu untuk pria berwajah brewokan tersebut.

Vivian melempar senyum pada suaminya. Tapi, Jon bergeming saja.

“Ih. Kok jadi patung jadi saja sih! Kasih balas senyumku dong,” ucap Vivian lembut. Ia tahu pria itu sedang kesal berat. Dan seruan manja bisa buat dia luruh.

“Hehehe,” Jon tertawa masam.

Hening sejenak. Tak sengaja ia mengerling ke saku, mendapati struk putih yang telah berkelindan. Entah dapat ide darimana, Jon menempel struk itu di dahinya.

Lalu, seisi ruang dapur diisi derai tawa mereka. “Si Kakek memang sungguh berjasa,” kata Jon. Istrinya mengangguk setuju. Dan mereka pun menikmati makan malam ceria seperti awal menikah saja.

i.ytimg.com
i.ytimg.com
Advertisements

One thought on “MANA SENYUMNYA?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s