Memilih ‘Kaya’ di Hadapan Allah

Minggu, 31 Juli 2016 | Hari Minggu XVIII Biasa

Memilih ‘Kaya’ di Hadapan Allah

Renungan-Katolik.com – Bila usai makan malam, Ibu kerap menceritakan pengalaman masa masa kecilnya. Terutama di masa tahun 60-an. Ibu menyampaikan cerita-cerita tersebut sembari mengajarkan moral dan kebijakan pada anak-anaknya.

Jika hendak membawakan ihwal ketamakan yang sia-sia, Ibu akan mengulang kisah seorang nenek penyendiri di kampung halamannya. Dia menuturkan, si nenek sungguh kikir sehingga jarang mau bergaul dengan kerabat tetangga. Setiap penghasilan dari panen maupun ternak disimpan di bawah tilam.

Hal itu diketahui banyak orang tatkala si nenek meninggal dunia. Saat jenazahnya hendak dipindahkan ke peti mayat. Orang-orang kampung mendapati uang-uang kertas lapuk dan koin berkarat yang sangat usang.

Seluruh uang miliknya itu jadi tidak berharga. Sementara harta tanah dan ternaknya diambil warga setempat. Si nenek meninggalkan dunia tanpa membawa secuil pun hartanya.

Sahabat RK. Dalam renungan pagi ini, kita disadarkan betapa kerdilnya segala yang dimiliki jika telah meninggal dunia. Tubuh kita hanya diberi kotak papan yang sedikit lebih besar, dan disemayamkan ke dalam bumi.

Kita mungkin tak lepas dari tuntutan hidup dunia. Namun, Yesus mengajarkan agar kita juga tiada lupa menjadi pribadi yang kaya di hadapan Allah. Bagaimana menjalankannya? Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Kolose baik untuk selalu kita renungkan: “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.

Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.

Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.

Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.

 

Sumber Permenungan:

Bacaan I: Pkh. 1:2; 2:21-23

Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.

Sebab, kalau ada orang berlelah-lelah dengan hikmat, pengetahuan dan kecakapan, maka ia harus meninggalkan bahagiannya kepada orang yang tidak berlelah-lelah untuk itu. Inipun kesia-siaan dan kemalangan yang besar.

Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya?

Seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati, bahkan pada malam hari hatinya tidak tenteram. Inipun sia-sia.

 

Mazmur:  Mzm. 90:3-4,5-6,12-13,14,17

 

Bacaan II:  Kol. 3:1-5.9-11

Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.

Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.

Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.

Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.

Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya; dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.

 

Bacaan Injil: Luk. 12:13-21

Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.”

Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?”

Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”

Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya.

Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku.

Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku.

Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!

Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?

Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.”

 

Pustaka: ImanKatolik.or.id | Ziarah Batin 2016

Lukas 12 ayat 20

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s