E G O

E G O

Oleh : Margaretha Bawaulu

 

Bulan menunggu dengan gelisah. Tiap detiknya terasa mendesak di dada. Pertanyaan – pertanyaan atas segalanya hadir memenuhi isi kepala. Menggantung. Tak terjawab, tak juga mereda.

“Gimana lan? Sudah keluar hasilnya?” Tampak keduanya gelisah dalam segala usaha yang sudah mereka coba.

 

***

Kali ini Mama Reno benar – benar sudah tidak bisa lagi menunggu. Tiga tahun Reno dan Bulan menikah. Tak ada satu pun suara tangis bayi yang mereka dapatkan untuk mendiamkan amarah Mama Reno.

Seperti teriknya matahari. Seperti itu pula udara dalam ruangan ber-ac itu terasa. Rembuk keluarga yang dibuat mendadak, begitu menegangkan.

“Mama sudah bilang, tidak ada lagi kata tunggu. Mau berapa lama lagi?”

“Sudah Ma.., nanti Mama jatuh sakit.” Papa berusaha menenangkan amarah Mama. Papa takut kalau Mama harus dirawat di Rumah Sakit kembali seperti tahun lalu karena hal yang sama.

Mama tidak mau mengerti lagi. Beliau meminta Reno untuk menikah lagi. Dia yakin, Bulan-lah yang salah bukan Reno.

Mereka berdebat, merasa dipojokkan. Mama meninggalkan ruangan itu dengan emosi. Menuruni tangga dengan tergesa-gesa membuat Mama terjatuh pada anak tangga ke lima belas.

Ketakutan Papa terjadi dan penyebabnya lebih parah dari yang diduga. Dua hari Mama koma namun seminggu kemudian keadaan Mama mulai membaik.

Mama tidak ingin diganggu oleh siapa pun termasuk Bulan dan Reno. Mereka merasa bersalah, Papa berusaha menjelaskan pada Bulan dan Reno bahwa itu bukan salah mereka.

 

***

Mama merasa bosan di kamar, Beliau meminta tolong kepada seorang Perawat untuk mengajaknya keliling Rumah Sakit dengan kursi rodanya.

Perawat membawa Mama ke taman untuk menghirup udara segar. Di bawah pohon yang rindang. Mama menikmati keheningannya. Mama tidak ingin berbicara sepatah kata pun.

“Ibu baik –baik saja?” Perawat itu berusaha mengajak Mama berbicara. Dia tahu Mama sedang menyimpan masalah. Mama hanya mengangguk.

Dalam keheningan mereka, seorang pria yang mengenakan jubah pasien. Ditemani oleh Ibunya dan seorang perawat, duduk di salah satu bangku di taman itu. Setelah memastikan keadaan pria itu. Dengan hormat sang perawat permisi dan meninggalkan mereka. Sang Ibu tersenyum membalas sikap perawat itu.

Ibu itu berubah menjadi sedih ketika hanya mereka berdua saja di bangku itu sambil menatap pria itu (anaknya). Dia mengelus lembut rambut pria itu lalu mencium keningnya dan memeluknya.

Ada kesedihan, penyesalan yang sudah tidak bisa diubah lagi oleh sang Ibu. Pria itu hanya diam. Tatapannya kosong dan tubuhnya seperti tidak memiliki jiwa.

“Anaknya kenapa?” Mama Reno bertanya pada Perawat yang sedari tadi menemaninya. Akhirnya sebuah kalimat keluar dari Mama. Perawat itu tersenyum sambil menghela nafas, melihat Mama lalu menatap pasien yang dimaksud Mama.

“Setahun yang lalu, Ibu pria itu meminta menantunya untuk hamil. Ibu itu ingin memiliki cucu, walaupun dia tahu besar resikonya bagi menantunya untuk memiliki anak. Dia tetap tidak peduli.

Menantunya berhasil hamil beberapa bulan kemudian, tapi…”

“Tapi…?” Mama bertanya karena Perawat itu menggantung penjelasannya. Mama penasaran. Perawat itu kembali melihat ke arah Ibu dan pria itu.

“Tapi tidak seperti yang diharapkan, dua bulan lalu menantu dan calon cucu Ibu itu harus meninggal dunia karena keadaan menantunya yang lemah.

Karna itu, anaknya menjadi sedih, depresi dan akhirnya sudah tidak punya semangat hidup lagi. Ibu itu menyesal, tapi sudah terlambat.”

 

Mama tertegun mendengarnya. Mereka larut dalam pikiran mereka masing – masing tentang keinginan dan kehidupan.

Matahari beranjak menjadi jingga yang menggelap menuju malam. Perawat itu kembali mendorong kursi roda Mama ke Kamar. Keheningan kembali meliputi mereka.

 

Helvetia, 29 Juli 2016

(Inspirasi di subuh hari – 03.00)

 

 

Renungan :

Kita sering memaksakan kehendak kita terhadap orang lain. Kita membuat aturan – aturan sendiri dengan mengatas namakan pandangan masyarakat. Kita lupa kembali pada hakikat cinta kasih.

Bukankah sebuah paksaan tidak akan membawa kita pada apa yang dicari? Iya. Sesuatu yang dipaksa pada akhirnya hanya akan menghasilkan sebuah penyesalan, rasa sakit, dendam, luka dan sia-sia karena tidak akan berjalan seperti apa yang diinginkan.

Sama seperti memakai sebuah sepatu pemberian orang lain tapi nomornya lebih besar atau lebih kecil dari ukuran sepatu yang kita miliki. Rasanya serba salah, dipakai juga menyiksa dan terlihat timpang.

“Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna itu tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap” ( 1 Kor 13 : 8 -10 )

Mintalah, agar kita mampu menekan ego kita masing-masing dan belajar memahami orang lain lewat lebih dari satu kacamata. Percayalah, tiada kasih yang buruk jika diungkap dengan cara-Nya.

Semoga kasih Tuhan selalu melingkupi tiap jalan kita. Tuhan Yesus memberkati.

Salam

 

cermin -- ego

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s