Hati yang Menghamba

Senin, 25 Juli 2016 | Pesta St. Yakobus Rasul

Hati yang Menghamba

Renungan-Katolik.com – Seorang koki kerajaan memiliki dua gentong air yang sering dipakai membawa air pegunungan nan segar. Kedua gentong ini memiliki perbedaan mencolok, sebab salah satunya mendapat retak di bagian bawah. Ini menyebabkan air yang dibawa sang koki banyak menetes jatuh di jalanan.

Bukannya kesal, sang koki justru merasa sangat senang dengan gentong retak tersebut. “Meskipun pada akhirnya air yang dibawa tinggal sedikit, namun tetesan air dari gentong ini menyirami bunga di sepanjang jalan. Sehingga aku bisa menyajikan makanan untuk raja dengan hiasan bunga hidup yang segar,” batin si koki.

Sahabat Renungan-Katolik, kedudukan sebagai pemimpin kerap sekali didambakan sebagai lambang kebanggaan. Membawahi insan-insan lain. Sebaliknya, menjadi hamba atau bawahan adalah posisi hina. Menjatuhkan harga diri.

Dalam renungan pagi ini, Yesus menyampaikan sabda kepada murid-murid-Nya: “Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.

Sabda tersebut disampaikan karena kemarahan para murid menyusul permintaan ibu anak-anak Zebedeus agar diperkenankan duduk disamping Yesus, dalam kerajaan-Nya.

Sebagaimana gentong yang memiliki cacat dalam dirinya, namun kelemahan tersebut disiasati menjadi ‘pelayanan’ bagi kehidupan bunga-bunga, demikian juga hendaknya pribadi kepemimpinan dimaknai.

Kelemahan serta posisinya yang meng-hamba tak menjadikannya dalam posisi terpuruk, sebaliknya menjadi kebanggan sang koki. Bukankah demikian juga harapan Allah dalam hidup iman kita?

 

Sumber Permenungan:

Bacaan I: 2Kor. 4:7-15

Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.

Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.

Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.

Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.

Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.

Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.

Karena kami tahu, bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Dan Ia akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya.

Sebab semuanya itu terjadi oleh karena kamu, supaya kasih karunia, yang semakin besar berhubung dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah.

 

Mazmur :  Mzm. 126:1-2ab,2cd-3,4-5,6

 

Bacaan Injil : Mat. 20:20-28

Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya.

Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.”

Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.”

Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.”

Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu.

Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.

Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Pustaka: ImanKatolik.or.id | Ziarah Batin 2016

Sumber foto: swcu.edu
Sumber foto: swcu.edu
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s