Menemukan Allah yang Kekal

Sabtu, 23 Juli 2016 | Santa Brigita

Menemukan Allah yang Kekal

Renungan-Katolik.com – Pada renungan Jumat kemarin, saya menuliskan kuatnya daya pikat permainan digital ‘Pokemon Go‘. Ini merupakan pembahasan yang menarik, sebab game tersebut merupakan satu dari banyak ‘berhala’ buatan untuk menghalau kita kepada pribadi yang rindu mendekat pada Pencipta kita, Allah.

Mengapa disebut ‘berhala’ buatan? Karena hati dan fikiran kita sulit lepas dari-nya. Apakah kita pernah kesal karena tim olahraga kesukaan kita kalah dan dicela? Apakah kita bersedih tatkala penyanyi atau artis kesukaan kita menderita sakit? Namun ketika diri kita didera penderitaan, kita mendapati bahwa tim olah raga, penyanyi bahkan game digital tidak dapat memberi jawaban dan penghiburan.

Renungan pagi ini, diawali seruan Yeremia kepada bangsa Israel yang murtad kepada Baal, ataupun allah buatan mereka sendiri. “Masakan kamu mencuri, membunuh, berzinah dan bersumpah palsu, membakar korban kepada Baal dan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal, kemudian kamu datang berdiri di hadapan-Ku di rumah yang atasnya nama-Ku diserukan, sambil berkata: Kita selamat, supaya dapat pula melakukan segala perbuatan yang keji ini!

Melalui Alkitab, kita akan menemukan bagaimana membentuk pribadi yang menuju kepada Allah yang benar dan kekal. Namun, perjuangan meraih pribadi tersebut dibiarkan teruji bersama allah-allah buatan. Hingga pada akhirnya pribadi tersebut dipilah oleh Sang Pencipta sendiri. “Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu.

Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.

 

Sumber Permenungan:

Bacaan I : Yer. 7:1-11

Firman yang datang kepada Yeremia dari pada TUHAN, bunyinya:

“Berdirilah di pintu gerbang rumah TUHAN, serukanlah di sana firman ini dan katakanlah: Dengarlah firman TUHAN, hai sekalian orang Yehuda yang masuk melalui semua pintu gerbang ini untuk sujud menyembah kepada TUHAN!

Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, maka Aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini.

Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: Ini bait TUHAN, bait TUHAN, bait TUHAN, melainkan jika kamu sungguh-sungguh memperbaiki tingkah langkahmu dan perbuatanmu, jika kamu sungguh-sungguh melaksanakan keadilan di antara kamu masing-masing, tidak menindas orang asing, yatim dan janda, tidak menumpahkan darah orang yang tak bersalah di tempat ini dan tidak mengikuti allah lain, yang menjadi kemalanganmu sendiri, maka Aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini, di tanah yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu, dari dahulu kala sampai selama-lamanya.

Tetapi sesungguhnya, kamu percaya kepada perkataan dusta yang tidak memberi faedah.

Masakan kamu mencuri, membunuh, berzinah dan bersumpah palsu, membakar korban kepada Baal dan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal, kemudian kamu datang berdiri di hadapan-Ku di rumah yang atasnya nama-Ku diserukan, sambil berkata: Kita selamat, supaya dapat pula melakukan segala perbuatan yang keji ini!

Sudahkah menjadi sarang penyamun di matamu rumah yang atasnya nama-Ku diserukan ini? Kalau Aku, Aku sendiri melihat semuanya, demikianlah firman TUHAN.

 

Mazmur : Mzm. 84:3,4,5-6a,8a,11

 

Bacaan Injil : Mat. 13:24-30

Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya.

Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi.

Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu.

Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu?

Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu?

Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu.

Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.”

 

Pustaka: ImanKatolik.or.id | Ziarah Batin 2016

Sumber foto: scpeanutgallery.com
Sumber foto: scpeanutgallery.com
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s