Air Membasuh Luka

Air Membasuh Luka

Oleh : Margaretha Bawaulu

 

16.05

Seorang Perempuan berlari di bawah hujan bersembunyi dari sedihnya. Dia menertawakan petir yang meledek kehidupan. “Kau tidak tahu bagaimana rasanya menjadi aku” Perempuan itu bertutur pada titik hujan yang tumpah di telapak tangannya.

Air dari langit dan dari mata hitamnya yang indah, menetes bercampur jadi satu di telaga yang sama. Ada rindu yang disisipkan hujan dalam ingatan si Perempuan.

 

***

Dua Minggu Lalu

Seorang Pemuda datang tanpa diundang. Membawa sebuah kabar yang sudah lama dikubur oleh Perempuan itu. Sia – sia dua puluh tahun sang Perempuan membangun benteng antara masa lalu dan saat ini yang Dia miliki.

Ingatannya kembali pada masa kecil yang seharusnya tidak dia alami. Saat itu lembaran hutang – hutang judi Sang Ayah bertebaran. Demi menolong keluarga, sang Ayah menjual anak Perempuanya pada seorang saudagar kaya dari kota seberang.

Perempuan itu sempat mendengar dari kamar, bahwa Ibunya memohon pada sang Ayah. “Jangan pak…, Leyna anakku..” Hutang sang Ayah lunas, tapi dia telah dibawa menjauh dari mereka.

Kini Pemuda itu datang menemui Perempuan itu dengan membawa sembilan belas surat dari ayahnya. Surat yang tidak pernah dikirimkan karena sang Ayah merasa sedih dan malu.

Sang Ayah selalu menulis satu surat kerinduan kepadanya di hari ulang tahunnya. Surat itu dimasukkan ke amplop lalu hanya disimpan saja di bawah bantal.

Sang Ayah sadar bahwa dia tidak berhak lagi menyakiti hati anaknya. Kesalahan terbesar Sang Ayah adalah menjual dan memisahkan seorang anak dengan Ibunya. Ada pesan – pesan kerinduan dan maaf yang tak pernah didengar langsung oleh Perempuan itu dari sang Ayah.

Pemuda pembawa kabar itu adalah orang yang selalu menemani Ayahnya di sisa hidup sang Ayah. Pemuda itu juga menyampaikan bahwa Ibunya telah tiada sejak tujuh belas tahun lalu. “Nyekarlah ke makamnya, Dia butuh maafmu. Dia juga Ayahmu Leyna” Sepotong pesan sebelum Pemuda itu pergi dan meninggalkan kesembilan belas surat tersebut.

 

***

16.15

Buku biru berisi curhatan Perempuan itu selama ini, dibiarkan terbuka bebas. Mencium aroma alam bermandikan hujan. Warna hitam yang selama ini terpenjara dalam lembaran demi lembaran, bebas meluntur dalam hujan. Hatinya pun ikut melepaskan segala siksanya. “Lepaslah engkau sekarang, temukan dirimu sendiri.” Perempuan itu berkata, menatap langit lalu berusaha menemukan wajah sang Ayah dan Ibunya di sana.

Di seberang Perempuan itu, seorang anak kecil tertawa dalam gendongan sang Ibu. Mereka bermain di bawah hujan yang sama. Derai tawa mereka menghantarkan kehangatan. Tidak jauh dari mereka terlihat kursi roda milik si anak.

 

Helvetia, 9 Juli 2016

 

Renungan :

Kita sering memenjarakan perasaan kita dalam tulisan – tulisan. Kita lupa bahwa hati kita butuh kebebasan. Bertahun – tahun kita mampu diam menutupi segala yang tidak kita mengerti.

Sudah saatnya kita membebaskan hati kita, dari perasaan curiga, iri hati, amarah, kesedihan dan segala perasaan yang tidak kita mengerti. Beranjaklah dari kasurmu, temukan duniamu yang sesungguhnya.

Berhenti bertanya tentang apa yang kita sendiri tidak pahami, namun laluilah setiap cobaan dengan tetap berdoa dan bersyukur. Sesungguhnya hari ini adalah hasil dari apa yang kamu usahakan dan harapkan di masa lalu.

Percayalah tiada kesedihan yang sangat buruk, yang ada adalah kita lupa bersyukur ketika kita diberi lebih. Sama seperti kata teman saya, jangan salahkan nila yang merusak susu sebelanga, tapi tanyakan kenapa setitik nila harus merusak susu sebelanga.

Jawabnya, karena sesungguhnya tiada kesempurnaan yang bisa dimiliki oleh anak – anak duniawi. Kesempurnaan hanya milik Tuhan, lalu kita adalah bentuk kesempurnaan yang terjadi karena ada sebuah rasa syukur.

Selamat hari minggu, semoga cinta kasih bertebaran di lingkaran hidup kita seperti tema liturgi kita minggu ini. Tuhan Yesus memberkati.

Shalom!

Sumber gambar: http://img08.deviantart.net/
Sumber gambar: http://img08.deviantart.net/
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s