Gagal ?

Renungan-Katolik.com – Cerahnya cuaca hari ini, membuat aktivitas pagi jadi menyenangkan. Setelah olahraga ku teguk segelas air mineral sebelum kopi menarikku dalam aromanya yang mengikat. Sebuah koran harian tanggal 01 Juli 2016 diletakkan Yani di sisi gelasku. Aku tersenyum.

Kita tidak pernah tahu, bahwa momentum kecil mampu membawa kita dalam sebuah persamaan. Saat itu aku butuh asisten. Melihat padatnya jadwalku, aku sering lupa akan hal – hal penting. Sudah setahun Yani menjadi asisten pribadiku. Mengurus segala yang ku perlukan.

Pertemuanku dan Yani berhubungan erat dengan koran. “Pengumuman SMBPTN sudah keluar pak” Yani bertanya sambil mengoleskan selai peanut ke sepotong roti sebelum disajikannya padaku. “Sudah Yan, mengenang?” Tanyaku sambil tersenyum menatap jumlah angka yang mendaftar dan yang hanya diterima.

Aku tidak pernah tertarik pada nama – nama yang lulus. Aku lebih tertarik pada angka – angka yang ketidak lulusan. Ada ribuan orang yang sedang bergulat dengan pribadinya. Antara diam dan tidak berbuat, antara sedih dan terus berharap, antara putus asa dan ingin berjuang.

Sungguh, aku pernah di antaranya.

***

Mamak masuk ke kamar sambil membawa ombus – ombus kesukaanku. “Jangan kau bersedih dan jangan pula kau putus asa. Jika nanti hasilnya tidak seperti yang kau harapkan Rehan” ujar Mamak sambil menyodorkan ombus – ombus ke hadapanku.

Ku ambil satu. Sambil membuka bungkusnya, ku katakan pada mamak “Bukan aku sedih karena hasilnya Mak, tapi sedih lihat reaksi Bapak nanti kalau ternyata tidak seperti yang diharapkannya.”

“Tidak Rehan, kami ingin kau berusaha dan mencoba. Bukan hasil saat ini yang kami harapkan, tapi nanti. Ketika kau mampu berdiri dari kekalahanmu. Menatap anak matamu sendiri dan bersyukur. Saat itu, aku dan bapak kau adalah orang yang paling bahagia melihatmu.” ujar Mamak lalu memelukku erat.

Benar dugaanku, harian 24 Juni 2005 mengatakan tidak untukku. Di kolom daftar nama yang lulus, tidak ku temukan namaku di sana. Tiga kali ku bolak balik dan hasilnya. Sama. Kosong. Aku masuk pada angka ribuan yang tidak masuk.

Tanganku gemetar menatap Bapak yang sudah menunggu hasil pencarianku. Dalam seragam bintang tiganya itu, Bapak selalu terlihat killer. Hari itu tidak, Dia tahu membaca gelisahku.

Untuk pertama kalinya, kulihat Bapak tersenyum untuk sebuah kegagalanku. Bapak tidak bertanya namun dia justru memelukku dan berkata “Aku terima kasih padamu, karena kau mau berjuang untuk bahagiaku. Namun bukan ini Rehan. 12 tahun kau belajar demi membentuk prestasi untuk membanggakan ku. Kali ini kejarlah mimpimu sesuai yang kau inginkan. Buktikan padaku kau bisa wujudkan mimpimu. Aku bangga padamu nak, karena kau berani dan jujur”

Untuk pertama kalinya jiwaku bebas hanya dengan mendengarkan sebuah ungkapan hati Bapakku. Aku menangis dan membalas pelukkannya. Dua bulan kemudian, sebuah surat dari Universitas Exeter tiba di tangan mamak. Tertulis jelas di sana “For Mr. Rehan Sihombing” Bapak orang pertama yang membacanya dengan seksama dan tersenyum.

 

***

Kini kenangan itu terasa manis untukku begitu juga Yani. Tahun lalu dia gelisah karena tidak tahu harus apa. Saat itu kami rebutan koran di ruang tunggu, aku mengalah dan memberikan harian itu padanya. “Ketemu namanya?” Dia menggeleng sedih dan aku tersenyum.

Hari ini, dia tersenyum untuk angka yang sama ku lihat. Ada ribuan orang yang sedang gelisah menentukan hidupnya dan mereka adalah generasi bangsa ini.

“Sebaiknya kau siap – siap nanti untuk daftar ulang Yan..” Aku tersenyum, beranjak dan meninggalkannya sendiri di ruang makan. Dia adalah orang yang sedih saat itu namun terus berharap dan tetap berusaha.

Untuk kamu yang gagal hari ini, tidak ada sesungguhnya yang gagal jika kamu hanya bermenung.

 

Renungan :

Ketika sebuah putus asa menghampiri, sesungguhnya kita sedang diuji. Bukan untuk menjadi sombong tapi untuk menjadi lebih dari emas. Semua juga hanya sia – sia belaka, jika yang dilakukan tidak dari hati. Lalu dukungan keluarga adalah hal yang sangat besar pengaruhnya dalam hidup.

Semoga kita tetap berdoa, semangat dan terus berjuang. Niscaya, Tuhan akan memberikan sesuatu yang sesungguhnya baik untuk kita.

Semoga Juli di 2016 mu baik untuk dilalui. Tuhan Yesus memberkati.

Salam

Helvetia, 01 Juli 2016

Sumber gambar: http://65.media.tumblr.com/
Sumber gambar: http://65.media.tumblr.com/
Advertisements

One thought on “Gagal ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s