Sebuah Keterlambatan

 

Renungan-Katolik.com – Stasiun Commuter Line Pesing pukul 17.15 jalur Tanah Abang. Aku duduk menikmati hujan membasahi kota bagian barat. Mendengarkan lagu He Won’t Go milik Adele dari hearphone sambil menunggu kereta datang. Segala aktivitas di sini sama seperti sebelumnya.

Sepanjang stasiun steril dari penjaja makanan. Penjaja makanan hanya akan terlihat di luar stasiun. Sesekali mereka juga kena razia Satuan Polisi Pamong Praja.

***

Aku pernah melihat Satpol PP melakukan razia, saat itu aku kebagian kereta telat. Jadilah telat yang beruntun juga. Telat sampai stasiun Pesing, telat dapat ojek, telat sampai kantor, telat meeting. Dalam keadaan serba telat itu, aku terpaku melihat seorang Ibu penjual sarapan pagi yang dirazia petugas.

Seketika itu, bayangan wajah Ibuku yang di daerah terlintas. “Jangan pak.., ini untuk sekolah anak saya…,” Sebuah kalimat yang terucap dari bibir kelu sang Ibu saat barang dagangannya hendak ditarik paksa dan mau dinaikan ke pick up mereka.

Aku sedih melihat sang Ibu, berharap ada seseorang yang membantunya. Dalam harapku, seorang pria berpakaian rapi muncul dari kerumunan yang merupakan salah satu penumpang kereta yang baru tiba. Dia berteriak marah pada petugas, lalu membantu Ibu tersebut untuk berkemas dan pergi dari situ. Petugas yang merazia, tidak memaksa Ibu itu lagi. Mereka membiarkan pria tersebut membantunya pergi.

Aku terharu, ternyata masih ada orang yang baik di Ibukota ini. Aku pikir semuanya telah menjadi serigala. Saling memburu waktu, memburu segala hal demi mementingkan ego pribadi.

Rasa haruku, membuatku ingin mengenal pria tersebut. Setidaknya untuk menambahkan daftar nama orang baik di Ibukota. Siapa tahu kelak, aku membutuhkannya.

Sang Ibu telah pergi jauh, tapi pria itu masih menunggu di halte Indosiar. Sesekali dia melirik jam di tangannya, lalu kembali memandang ke jalanan ramai. Pandangannya mencari sesuatu di sana, mungkin nomor angkutan yang ditunggunya.

Perasaan penasaran, telah membawa langkahku berada di sampingnya. Di halte yang sama. Aku memang telah terlambat, tapi tak kurasakan gelisah sedikit pun jika memang ojekku tidak datang. Sementara dia duduk penuh gelisah, terlihat jelas karna kaki kanannya terus bergoyang. Jemarinya pun sibuk mengetuk – etuk pahanya.

“Ehm.., sedang telat ?” Aku menawarkan diri untuk bertanya. Dia tersenyum. Terjadi percakapan yang panjang, sampai keterlambatan berubah menjadi indah di antara kami. Saling bertukar info pribadi dan berlanjut hingga sekarang.

***

Masih menikmati hujan sore ini, aku menunggunya di Stasiun Pesing. Sudah pukul 18.00 dan dia belum tiba. Mungkin terlambat. Tidak apalah, bukankah keterlambatan adalah bagian dari awal kisah kami.

Aku mendengarkan Seorang wanita di sebelahku dengan beberapa temannya, sedang berbincang tentang kecelakaan pukul 17.30. Sebuah bus dari arah Grogol menuju Indosiar . Para penumpangnya luka parah dan dilarikan ke rumah sakit terdekat. Terjadilah keterlambatan itu sekali lagi. Keterlambatan yang tidak tahu ujungnya dalam hujan yang semakin dingin.

Medan, 21 Mei 2016

Sumber: DreamTime.com
Sumber: DreamTime.com

KETERLAMBATAN KITA

Oleh : Margaretha Bawaulu

Kita pernah sama – sama terlambat dan benar – benar terlambat

Terjebak di antara konfrontasi kehidupan

Melerai segala gunjangan di dada, lupa kala waktu telah senja

Kita pernah sama – sama terlambat dan menyadari segala kisah telah terlambat adanya

Kita berjalan pelan – pelan, karna percaya segalanya indah di waktunya

Tanpa memahami usaha itu perlu

Terjadilah keterlambatan itu sekali lagi di antara kita

Lalu sama sekali tidak berakhir indah di waktunya

Terlambatlah segalanya di antara kita dan berakhirlah apa adanya jua.

Renungan :

Terlambat adalah bagian dari hidup kita. Sejak adam dan hawa terlambat menyadari bahwa mereka bersalah. Sejak itu terlambat melekat di diri kita manusia yang berdosa ini.

Kita sering terlambat menyadari ada yang salah dan sering tidak tahu harus berbuat apa. Apakah kita pernah bertanya, kenapa kita terlambat? Atau, pernahkah kita bertanya mengapa kita harus terlambat?

Jangan membenci terlambat atau menyukainya, tapi hargai semua proses dari keterlambatan itu. Niscaya tidak akan ada yang hilang dalam hidup kita.

So guys, belajarlah mencintai waktu yang ada. Karena kehidupan adalah rahasiaNya.

Tuhan Yesus memberkati. Salam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s