Mengenal Bahasa Kasih Allah

Kamis, 16 Juni 2016 | Hari Biasa

Mengenal Bahasa Kasih Allah

Renungan-Katolik.com – Saat Ayah memboyong kami sekeluarga pindah ke Simpang Selayang, lingkungan sekitar serasa dekat dengan alam. Karena kami lah keluarga pertama yang menetap di wilayah tersebut, sementara di sekeliling ialah bentangan sawah, ladang dan pepohonan.

Setiap kali masa padi menguning, tentu saja burung-burung turut mencuri kesempatan memakan bulir padi. Unggas tersebut tak jera meski petani memasang ‘pengusir’ buatan, bahkan jerat tali.

Saya teringat pada satu hari mendapati seekor burung pipit menjadi korban jerat tersebut. Dengan perlahan, saya mendekati dan melepas burung dari jerat. Dalam genggaman tangan, saya bisa merasakan degup jantung burung tersebut sungguh kencang. Saat hendak membawanya ke rumah untuk mengobati kakinya yang cedera, dekapan tangan saya sempat mengendur. Segera saja burung pipit tersebut terbang dengan cepatnya.

Saya terpekur sejenak. Seandainya saja burung pipit tersebut mengerti bahwa saya hendak mengobatinya, apakah dia masih mencoba melarikan diri? Bukankah demikian juga sesungguhnya gambaran kasih Allah pada kita, manusia.

Kita kerap kehilangan pemahaman akan kasih Allah karena jerat dosa. Bagaimanakah kita bisa mengetahui bahwa Allah tak letih mencurahkan pengampunan dan anugerah? Melalui doa. Karena itulah, para murid-murid meminta ajaran Yesus bagaimana sebaiknya doa yang diucapkan pada Allah. Ajaran doa dari Yesus ini lah yang kini kita kenal sebagai “Doa Bapa Kami.”

Pujian, syukur, serta permohonan yang diucapkan dalam “Doa Bapa Kami” dengan indah menggambarkan kasih Allah pada kita. Dan, sebagaimana kepada orangtua kita sendiri, semakin sering bertutur sapa maka keeratan kasih yang dirasakan juga semakin kuat. Sehingga kita tidak melarikan diri tatkala Allah melepas kita dari jerat dan disembuhkan dari luka-luka dosa.

 

“Doa itu bukan meminta. Doa adalah menempatkan diri ke dalam tangan Tuhan, ke dalam posisi-Nya, dan mendengarkan suara-Nya di kedalaman hati kita.”

Bunda Teresa

 

Sumber Permenungan:

 

Bacaan I: Sir 48:1-14

Lalu tampillah nabi Elia TlO bagaikan api, yang perkataannya laksana obor membakar.

Kelaparan didatangkan-Nya atas mereka, dan jumlah mereka dijadikannya sedikit berkat semangatnya.

Atas firman Tuhan langit dikunci olehnya, dan api diturunkannya sampai tiga kali.

Betapa mulialah engkau, hai Elia, dengan segala mujizatmu, dan siapa boleh bermegah-megah bahwa sama dengan dikau?

Orang mati kaubangkitkan dari alam arwah, dan dari dunia orang mati dengan firman Yang Mahatinggi.

Raja-raja kauturunkan sampai jatnh binasa, dan orang-orang tersohor kaujatuhkan dari tempat tidurnya.

Teguran kaudengar di gunung Sinai, dan di gunung Horeb keputusan untuk balas dendam.

Engkau mengurapi raja-raja untuk menimpakan balasan, dan nabi-nabi kauurapi menjadi penggantimu.

Dalam olak angin berapi engkau diangkat, dalannkereta dengan kuda-kuda berapi.

Engkau tercantum dalam ancaman-ancaman tentang masa depan untuk meredakan kemurkaan sebelum meletus, dan mengembalikan hati bapa kepada anaknya serta memulihkan segala suku Yakub. n Berbahagialah orang yang telah melihat dikau, dan yang meninggal dengan kasih mereka, sebab kamipun pasti akan hidup pula.

Elia ditutupi dengan olak angin, tetapi Elisa dipenuhi dengan rohnya. Selama hidup ia tidak gentar terhadap seorang penguasa, dan tidak seorangpun menaklukkannya.

Tidak ada sesuatupun yang terlalu ajaib baginya, dan bahkan dikuburnyapun jenazahnya masih bernubuat.

Sepanjang hidupnya ia membuat mujizat, dan malah ketika meninggal pekerjaannya menakjubkan

 

Mazmur Tanggapan: 31:20,21,24

 

Bacaan Injil:  Mat. 6:1-6,16-18

Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.

Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.

Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.

Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)

Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.

Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”

 

Sumber tambahan: ImanKatolik.or.id | Ziarah Batin 2016

Advertisements

2 thoughts on “Mengenal Bahasa Kasih Allah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s