Apakah Saya Tidak Tahu Cara Berdoa Katolik? (1)

Sumber: http://saintlukekorlebu.com/images/prayer.jpg

Renungan-Katolik.com – Dari pengalaman berdoa bersama itu, sering kali terasa dalam kesadaran bersama dan kelihatan suatu  keadaan “ketidaktahuan” cara berdoa seturut ajaran Gereja Katolik. Ketidaktahuan itu (nampaknya) berdampak pada “ketidakyakinan diri”. Bahkan merasa diri tidak pantas dan layak untuk memimpin doa bersama spontan ataupun tertulis.

Dan fenomena ini terjadi hampir berulangkali, bila seseorang dari antara umat ditunjuk atau diminta memimpin doa, reaksi spontan yang sering kali ia perlihatkan secara sadar melalui bahasa tubuhnya ialah tidak bersedia memimpin doa, sudah tentu dengan rupa-rupa alasan.

Ketidaksediaan diri ini (mungkin saja) disebabkan oleh berbagaimacam faktor atau alasan-alasan pribadi. Sayangnya, alasan yang lebih dalam dan serius daripada alasan personal itu adalah bahwa sesungguhnya “akar dari alasan yang mendasari ketidaksediahan diri memimpin doa bersama ialah sebab “TIDAK TAHU CARA BERDOA”.

Sementara ada pula beberapa dari umat beriman berani bahkan suka dan suka memimpin doa bersama, akan tetapi mereka  berdoa  tanpa suatu kaidah iman yang mendasari cara mereka berdoa.  Kebanyakan dari antara kita umat beriman dalam “ketidaktahuan” saat memimpin doa bersama menggunakan “gaya bebas”, artinya mereka menggunakan gaya atau cara yang tidak sesuai dengan pengajaran teologi Gereja Katolik.

Pengalaman dalam “ketidaktahuan cara berdoa” ini juga yang  pernah dialami oleh para murid zaman Yesus, saat mereka melihat melihat murid-murid Yohanes yang begitu pandai berdoa (Luk. 11:1-4). Dari penglihatan yang menakjubkan dan mungkin saja membuat cemburu hati para murid itu,  mendorong mereka untuk meminta kepada Yesus supaya mengajarkan kepada mereka bagaimana cara berdoa yang benar dan tepat kepada Allah.

Yesus kemudian mengajarkan para murid-Nya berdoa seturut tradisi iman Perjanjian Lama, dan dalam doa bersama itu Yesus membuka hati mereka untuk unsur baru dari Kerajaan Allah yang akan datang. Seringkali dalam bentuk analogi-analogi Yesus suka menyatakan unsur baru kerajaan Allah itu kepada publik dan murid-murid-Nya.

Dan kemudian selama masa Gereja, semua doa-doa Gereja itu  bersumber dari pengalaman para Rasul pada hari Pentekosta. Roh Kudus yang dicurahkan atas kebersamaan para Rasul: “saat semua berkumpul di suatu tempat” (Kisah 2:1), “bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama” (Kisah 1:14). Roh Kudus itulah yang akan terus mengajarkan Gereja dan mengingatkan Gereja akan segala sesuatu yang telah dikatakan Yesus, yaitu mendidik Gereja menuju kehidupan doa. Buktinya, sejak Gereja Perdana di Yerusalem umat beriman “bertekun dalam pengajaran Rasul-rasul dan dalam persekutuan, dan mereka  selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” (Kisah 2:42).

Roh Kudus itulah yang memperingatkan Gereja berdoa, menghantarnya ke dalam seluruh kebenaran, dan Ia mengajak umat beriman mengungkapkan secara baru misteri Kristus yang bekerja dalam kehidupan, dalam sakramen-sakramen, dan dalam perutusan Gereja. Ekspresi misteri Kristus secara baru itu berkembang dalam tradisi-tradisi liturgis dan rohani yang besar. Dengan demikian, setiap umat beriman (baik yang tertahbis dan yang tidak tertahbis) tidaklah punya “kuasa” untuk mengarang atau menciptakan sendiri bentuk, isi dan sturktur doa yang adalah tradisi resmi Gereja.

Katekismus Gereja Katolik (KGK) adalah dokumen Konsili Vatikan II yang memuat tradisi resmi Gereja itu. KGK 2626-2643, secara khusus merumuskan dan mengajarkan kita semua doa Gereja yang berbentuk, berisi dan berstruktur sangat jelas. Dan, tulisan ini hanya  sebagai “media” yang mengingatkan sekaligus mengajak kita semua umat Katolik untuk kembali menganut ajaran Katekismus ini demi  memperbaiki “jiwa” dan “karakter” berdoa seturut tradisi Gereja.

 

Pertama: Kita Menyapa Allah [Anaklesis]

Kita memulai doa Gereja dengan menyapa Allah dalam berkat dan penyembahan. Sebab berkat adalah tindakan dasariah perjumpaan abadi antara Allah dan manusia. Di dalam berkat itu, Allah  mencurahkan anugerah-Nya dan penerimaannya oleh manusia yang bersatu dalam sapaan timbal balik. Maka doa yang memberkati adalah jawaban manusia atas anugerah-anugerah Allah.

Karena Allah memberkati, maka hati manusia dapat memuja Dia yang adalah sumber segala berkat. Komunikasi abadi antara Allah dan manusia ini pada hakikatnya memiliki dua arah: pada satu sisi ia naik – dibawa oleh Roh Kudus – melalui Kristus kepada Bapa. Kita menyapa Allah karena Dia memberkati kita. Di sisi lain, kita memohon rahmat Roh Kudus yang turun dari Allah Bapa melalui kehadiran Kristus, tanda Allah memberkati.

Sedangkan penyembahan adalah sikap pertama manusia, yang mengakui diri sebagai makhluk di hadapan Pencipta-Nya. Manusia memuliakan kebesaran Allah yang menciptakan dirinya , dan  kemahakuasaan Penyelamatan yang membebaskan manusia dari hal yang jahat. Dalam penyembahan, roh mendudukan diri di hadapan “Raja Kemuliaan”. Penyembahan Allah yang kudus dan yang harus dicintai di atas segala-galanya, memenuhi kita dengan kerendahan hati dan memberi kepercayaan teguh kepada permohonan manusia.

* Artikel pernah dimuat di majalah online Lentera News (http://majalahlentera.com)

 

Sumber: osc.or.id
Sumber: osc.or.id

Penulis: RP Faustinus Sirken, OSC | tinus_sirken@yahoo.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s