Memasak Tanpa Garam?

Selasa, 7 Juni 2016 | Hari Biasa

 

Memasak Tanpa Garam?

Renungan-Katolik.com – Setelah menikah, sudah menjadi rutinitas saya dan suami selalu bangun pagi lebih awal. Suatu waktu saat bangun pagi terjadi pemadaman listrik. Rada kesal di dalam hati dan bersungut sungut: Kenapa harus pagi pagi padamnya? Namun saya tetap harus masak untuk sarapan dan bekal makan siang suami.

Saat hendak memasak sayur, saya teringat bahwa garam di dapur sudah habis. Kemarin sepulang kerja terlupa untuk membeli garam saat belanja ikan dan sayur untuk dimasak pagi ini. Semakin kesal didalam hati. Hari apa ini, sudah listrik padam, mau masak sayur dan menyambal ikan pun garam sudah habis. Sementara warung terdekat tentunya belum buka.

Suami berkata, “Tidak apa apa kalau tidak pakai garam. Masakan Mome tetap enak.” Suami saya memang sering menggombal, karena dia paling tidak suka melihat wajah saya merengut.

Dalam injil hari ini Yesus meminta pendengarnya untuk menjadi garam dan terang. Kitapun sudah tahu, bagaimana pentingnya terang itu, dan pentingnya garam itu dalam kehidupan kita. Tidak perlu iklan untuk memberitahukan manfaatnya. Tanpa terang, dengan mata yang terbuka sekalipun dalam kegelapan, kita tidak akan dapat melihat apa apa. Begitu juga dengan garam. Cita rasa makanan sangat dipengaruhi oleh garam.

Begitu juga dengan kehidupan kita. Kita dituntut untuk dapat menjadi pembawa cita rasa yang enak bagi sesama kita. Membawa terang bagi sesama kita. Dari sikap itulah, tercermin siapa kita. Dan benar lah kita anak Allah.

Shalom.

 

Pikiran cinta, meskipun tak mengucapkannya, maka dunia pun akan terasa lebih terang (Ella Wheeler Wilcox)

Sumber Permenungan:

 

Bacaan I : 1Raj. 17:7-16

Tetapi sesudah beberapa waktu, sungai itu menjadi kering, sebab hujan tiada turun di negeri itu.

Maka datanglah firman TUHAN kepada Elia:

“Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan.”

Sesudah itu ia bersiap, lalu pergi ke Sarfat. Setelah ia sampai ke pintu gerbang kota itu, tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Ia berseru kepada perempuan itu, katanya: “Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum.”

Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia berseru lagi: “Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti.”

Perempuan itu menjawab: “Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati.”

Tetapi Elia berkata kepadanya: “Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu.

Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi.”

Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya.

Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.

 

Mzm. 4:2-3,4-5,7-8

 

Bacaan Injil : Mat. 5:13-16

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.

Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

 

Rujukan tambahan: imankatolik.or.id | ziarah batin 2016

Advertisements

One thought on “Memasak Tanpa Garam?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s